Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli

Berlayar ke Bintan, Menziarahi Pujangga Besar Melayu di Penyengat

Sunu Dyantoro

5 menit baca

Berlayar ke Bintan, Menziarahi Pujangga Besar Melayu di Penyengat

Dari Batam, kami menumpang kapal ferry menuju Tanjungpinang. Pagi masih terlalu muda buat kami. Senin itu, 21 September 2026, adalah hari ketiga anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyelenggarakan Festival Media Selat Malaka 2026 .

Dua hari sebelumnya, kami berkegiatan di Kampus Politeknik Negeri Batam. Tibalah saatnya kami bergeser dari Batam, pulau ekonomi dan bisnis dekat Singapura, menuju ke timur, Pulau Bintan. Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, berada di pulau itu. Ini sekaligus bagian dari kesadaran kami bahwa penyelenggara Pesta Media 2026 ini adalah dua kepengurusan AJI kota: Batam dan Tanjungpinang.

Berangkat dari dari Asrama Haji di kawasan Batam Center, kami berempatpuluhan menaiki bus sewaan, mengabah ke Pelabuhan Telaga Punggur di Nongsa. Telaga Punggur berjarak 16 kilometer selatan Bandara Internasional Hang Nadim, di ujung tenggara Pulau Batam. Begitu sampai di dermaga, kami langsung masuk kapal. Kebanyakan dari kami memilih duduk di geladak atas. Tak lama kemudian ferry bergerak ke timur. Angin terasa berembus deras.

Di dek paling tinggi, kami berbaur dengan penumpang lain. Ada seorang bapak berwajah Melayu dengan baju lengan panjang, bersongkok hitam. Dari mulutnya terus mengepul asap rokok. Ada juga pria bermata agak sipit dengan kalung putih berbandul salib, menggantung di lehernya. “Saya 35 tahun pulang-pergi Batam-Tanjungpinang. Kalau tidak ada gelombang besar, 45-50 menit kita sampai di pelabuhan Tanjungpinang,” katanya.

Pria 63 tahun ini tinggal di Batam Center. Ia bercerita pentingnya jalur transportasi Batam-Tanjungpinang untuk pergerakan orang dan barang. Apalagi, kini, Batam kian padat penduduk dan sesak dengan aktivitas ekonomi. Mau tak mau, kata dia, pengembangan yang lebih prospektif adalah ke Bintan.

Benar omongan pria ini. Setelah hampir satu jam berlayar, kami tiba di Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjungpinang. Jarak 40 kilometer Telaga Punggur-Sri Bintan Pura hampir tak terasa dengan khusyuknya obrolan, sembari memandang jauh laut dan tepian pulau. Sri Bintan Pura menempel di pantai barat Pulau Bintan.

Tiba di Bintan, kami sekadar transit. Selanjutnya, kami pindah ke perahu kayu kecil yang muat sepuluh penumpang. Orang Kepri menamakannya pompong. Sang nakhoda, Ridwan Bin Ismail Jambi, menyambut kami dengan gembira. Sepuluh orang duduk di bangku kiri dan kanan pompong, Ridwan segera menghidupkan mesin. Sampan melaju agak kencang menuju Pulau Penyengat. “Kami sudah 18 tahun bawa pompon dari Tanjungpinang ke Penyengat bolak-balik,” katanya.

Posisi pulau tempat makam pujangga masyhur Melayu, Raja Ali Haji, persis di seberang selat, barat Tanjungpinang. Jaraknya hanya dua kilometer. Pulau ini kecil, panjang dua kilometer dengan lebar 850-an meter. Pada saat cuaca cerah, pulau ini sungguh jelas dalam pandangan mata, dari Taman Gurindam Tanjungpinang. Di taman ini juga berdiri Gedung Lembaga Adat Melayu. Tak jauh dari situ, berpijak rumah dinas mentereng untuk gubernur yang berkuasa di Kepri.

Raja Ali Haji adalah penggubah karya sastra berjenis gurindam, puisi lama Melayu, terdiri dua baris dalam satu bait. Puisi lama terikat dengan aturan jumlah baris, bait, atau rima. Selain gurindam, puisi lama juga mengenal karya berbentuk pantun, syair, dan karmina.

Sampai di dermaga pelabuhan Penyengat, kami berjalan enggak jauh, menuju ke depan Masjid Raya Sultan Riau. Di depan masjid, kami disambut dua pendamping. Mereka menemani kami selama di Penyengat. Kami ditingkah  dengan pantun. Pesannya perihal ucapan selamat datang dan kehangatan warga Penyengat untuk tetamunya. Tak lupa, pemandu menyitir pasal gurindam.

Selanjutnya, pemandu memecah kami ke dalam dua rombongan. Saya bersama pemandu wisata bernama Raja Fahrul. Berbaju adat dengan tanjak, ikat kepala khas Melayu, Raja Fahrul mengajak kami menuju artefak rumah tabib, dan ke makam Raja Ali Haji, lalu ke Masjid Raya Sultan Riau.

Dalam perjalanan menuju kuburan sastrawan wahid itu, kami menyaksikan sebentuk bangunan tanpa atap. Inilah rumah tabib peninggalan Kerajaan Riau-Lingga itu. Ia bernama Raja Ahmad Thabib bin Raja Hasan bin Raja Ali Haji. Tabib lahir di Pulau Penyengat pada 1282 Hijriyah atau 1865 Masehi. Raja Fahrul menyebut tabib Raja Ahmad bukan hanya ahli dalam bidang kesehatan. “Ia juga seorang ulama,” katanya.

Setelah berkelok di jalan kampung, kami menyaksikan bangunan yang menaungi makam. Warna kuning mendominasi. Di depan pagar makam, sembari berteduh di bawah pohon, Raja Fahrul menceritakan riwayat Raja Ali Haji. Pujangga ini adalah anak Raja Ahmad, adik kandung Engku Putri Raja Hamidah.

Adapun Engku Putri adalah anak Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda Riau IV, sekaligus permaisuri Sultan Mahmud Syah III. Saat menikah pada 1803, Engku Putri dapat mahar Pulau Penyengat. “Mirip Taj Mahal India yang dibangun sebagai bukti cinta raja pada istri, Sultan Mahmud Syah III menghadiahkan Pulau Penyengat untuk Engku Putri. Ia pemegang regalia, alat kebesaran dan mahkota, syarat sah penobatan sultan,” kata Raja Fahrul.

Ia kemudian mengajak rombongan kami masuk ke komplek makam. Ziarah kami mulai dengan bertafakur untuk berdoa di pusara makam Engku Putri. Kami juga mendaraskan ratib dalam kalbu untuk Raja Ali Haji yang mendapat gelar pahlawan nasional pada 10 November 2004 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ia punya nama lengkap Raja Raja Ali Haji Ali al-Hajj Ibni Raja Ahmad al-Hajj Ibni Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Engku Bayangan alias Haji Ali Haji Ahmad Ibni Engku Riau. Ia lahir 1808 dan meninggal pada 1873. Fahrul mengatakan, karyanya yang terkenal, Gurindam 12, berisi nasihat dalam berhubungan dengan Tuhan, dan sesama manusia.

Komplek makam Raja Ali Haji adalah bekas istana yang sebelumnya dihuni Engku Putri. Tak ada gambaran pasti seperti apa Istana Engku Putri saat itu. “Kami belum menemukan di mana lokasi persis istananya,” kata Fahrul.

Dari makam, kami kembali melintasi kampung, menuju Masjid Raya Sultan Riau yang dibangun pada 1771-1815. Masjid berwarna kuning ini menjadi lambang Penyengat. Dari kejauhan, menaranya kelihatan menjulang, meski tak terlalu tinggi. Sesampai di masjid, beberapa orang takzim tempat ibadah ini dengan salat penghormatan.

Menjelang zuhur, saat sinar matahari begitu terik, kami berlayar balik ke Tanjungpinang. Dari pelabuhan, kami berjalan kaki menuju Gedung Lembaga Adat Melayu untuk konsolidasi organisasi. Sebelum rapat, kami menyantap aneka jajanan dan minuman, di antaranya teh tarik dingin. Tak lama kemudian, makan berhidang kuliner istimewa Melayu Kepri menyambut hangat kami. Nasi lemak, pacri nanas, sayur lodeh, ayam gulai, dan rendang kami santap beramai-ramai. Het eten is lekker!