Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli

Festival Media Selat Malaka: Jurnalisme Bantu Publik Awasi Kekuasaan dan Perjuangkan Hak

Sunu Dyantoro

5 menit baca

Festival Media Selat Malaka: Jurnalisme Bantu Publik Awasi Kekuasaan dan Perjuangkan Hak

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Nany Afrida menyatakan jurnalisme membantu publik memahami persoalan di sekitarnya, mengawasi kekuasaan, dan memperjuangkan hak atas informasi. Ia juga mengatakan jurnalisme penting bagi para pengambil kebijakan, karena suara masyarakat harus menjadi bagian dari keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.

Nany menyatakan perihal ini dalam sambutan pembukaan Festival Media Selat Malaka di Kampus Politeknik Negeri Batam di Kota Batam, Sabtu, 19 September 2026. Kegiatan ini berlangsung di dua kota, Batam dan Tanjungpinang pada Sabtu-Senin, 19-21 Septmber 2026. Sejumlah perwakilan negara sahabat dan organisasi masyarakat sipil mitra hadir dalam acara ini.

Kegiatan ini diisi dengan seminar internasional dan pelbagai diskusi dan lokakarya. Pada Senin 21 September, peserta akan diajak berkunjung ke Pulau Penyengat. Di pulau ini para tamu dari AJI Kota di seluruh Indonesia bersama jaringan AJI akan diajak mengikuti napak tilas sejarah di pulau yang menjadi salah satu pusat peradaban Melayu.

Nany menyataka penting bagi jurnalis untuk terus belajar, mengembangkan kapasitas. “Penting bagi kita untuk memahami persoalan yang kita liput secara lebih mendalam,” katanya.

Ia mengingatkan jurnalis perihal tantangan nyata: jarak geografis, biaya transportasi, keterbatasan jaringan komunikasi, dan minimnya sumber daya redaksi. Selain itu, jurnalis menghadapi kesulitan mengakses informasi dan narasumber.

Sebuah liputan, kata dia, bisa membutuhkan perjalanan berjam-jam, bahkan berhari-hari. “Bagaimana kita bisa menuntut jurnalisme berkualitas jika jurnalisnya tidak mendapatkan dukungan yang memadai?” ujarnya retoris.

Karena itu, menurut Nany, festival ini bukan sekadar perayaan media. Ini adalah kesempatan bagi semua jurnalis untuk belajar mengapa jurnalisme sangat penting.

Ia berharap melalui berbagai workshop dan training, festival ini menjadi ruang bagi jurnalis untuk belajar tentang isu-isu kawasan kepulauan, memperkuat keterampilan jurnalistik, dan membangun kolaborasi lintas wilayah bahkan tingkat regional.

“Kita ingin jurnalis tidak hanya mampu memberitakan peristiwa, tetapi juga memahami konteks sosial, lingkungan, ekonomi, dan hak asasi manusia di balik setiap persoalan,” kata Nany.

Buat dia, masyarakat di pulau-pulau kecil tidak boleh hanya muncul dalam pemberitaan ketika terjadi bencana, konflik, atau peristiwa besar. Jurnalisme, lanjut dia, harus membuka ruang bagi nelayan, masyarakat adat, perempuan, pekerja migran, kelompok minoritas, dan komunitas perbatasan untuk menyampaikan pengalaman mereka sendiri.

Namun, Nany menjelaskan bahwa jurnalis harus dapat bekerja tanpa intimidasi, memiliki akses terhadap informasi, memperoleh perlindungan ketika menghadapi ancaman. Selain itu, jurnalis mendapatkan hak-hak ketenagakerjaan yang layak.

“Ini yang sedang kita, AJI, perjuangkan. Dan harusnya juga dilindungi oleh megara, karena itu kewajibannya dalam negara demokrasi,” ucapnya.

Nany berharap Festival Media Selat Malaka menjadi momentum untuk memperkuat jaringan dan kolaborasi antara jurnalis di Indonesia dan kawasan. Ia mengajak berjurnalisme dengan semangat inklusi dan tidak meninggalkan suara rakyat kecil yang
tertindas.

Ia mengutip pernyataan pesan pejuang isu rasial Desmond Tutu. “Kemanusiaanku terikat pada kemanusiaanmu; kita hanya dapat menjadi manusia bersama-sama.”

Nany berterima kasih kepada para panitia, para donor, para volunter dan juga Direktur Politeknik Negeri Batam, Bambang Hendrawan, yang sudah membuka kampus politeknik ini dengan hangat.

Ia juga mengajak semua orang di ruangan pembukaan festival untuk menundukkan kepala sejenak, mendoakan lima jurnalis dan tiga awak kapal yang masih hilang saat meliput isu Krakatau.

“Kehilangan satu jurnalis adalah bencana. Kehilangan lima jurnalis sekaligus adalah tragedi kemanusiaan dan pukulan telak bagi demokrasi Indonesia yang saat ini tersuruk-suruk,” katanya.

Ketua Panitia Fesmed Selat Malaka Adam Zulfikar menyatakan seluruh rangkaian kegiatan ini diselenggarakan secara mandiri dan tidak menggunakan anggaran dari APBN maupun APBD. Ia mengatakan persiapan Festival Media Selat Malaka ini sudah panitia mulai sejak satu tahun lalu.

Menurut dia, festival ini menjadi sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya karena untuk pertama kalinya diselenggarakan di dua kota di Kepulauan Riau, yaitu Batam dan Tanjungpinang. Dan, ini menjadi Festival Media yang ke-11 yang diselenggarakan oleh AJI.

​Tentu, kata dia, menyelenggarakan acara seperti ini tidak mudah. Apalagi situasi jurnalis dan media saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Di saat yang sama, menurut Adam, kita juga sedang menghadapi situasi bangsa yang tidak mudah. Banyak saudara-saudara kita di berbagai daerah yang sedang menghadapi bencana.

“Karena itu, kami juga tidak ingin festival ini menjadi alasan bagi kita untuk mengurangi empati terhadap apa yang sedang terjadi di luar sana,” tuturnya.

Ia menyatakan panitia tetap bertekad bahwa acara ini harus terlaksana. Sebab, di tengah situasi seperti sekarang, ruang untuk berdiskusi, bertukar perspektif, dan membicarakan berbagai persoalan justru terus diperbanyak.

Mudah-mudahan, kata dia, melalui festival ini, kita bisa membuka wawasan baru, sekaligus membangun kesadaran bersama mengenai situasi yang sedang dihadapi media dan jurnalis hari ini.

​Apalagi persoalan itu ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara tetangga, media dan jurnalis menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda.

Itulah salah satu alasan mengapa panitia memilih nama Festival Media Selat Malaka dan mengangkat tema Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara.

Adam mengatakan Selat Malaka bukan hanya batas geografis. Ia adalah ruang yang mempertemukan kita. Dari sini, kata dia, kita melihat bahwa ada banyak isu yang melampaui batas negara, yang bisa kita bicarakan bersama, terutama terkait media, jurnalisme, demokrasi, dan masyarakat sipil.

Direktur Politeknik Negeri Batam Bambang Hendrawan menyatakan pentingnya jurnalisme dalam memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat di tengah banjir informasi. Selain itu, ia mengajak jurnalis menghasilkan karya jurnalistik yang memberikan solusi kepada publik.

Menurut Bambang, Batam dan Tanjungpinang memiliki posisi strategis untuk membicarakan kemerdekaan pers dan solidaritas jurnalis lintas negara. Sebab, kata dia, sejak dahulu Selat Malaka tidak hanya menjadi jalur perdagangan, tetapi juga ruang pertemuan budaya, pengetahuan, dan gagasan.

Ia menyatakan pers memiliki peran penting dalam memastikan pembangunan berlangsung secara transparan dan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat. Kemerdekaan pers, kata dia, bukan hanya kepentingan jurnalis.

“Kemerdekaan pers adalah hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, terverifikasi, berimbang, dan bebas dari tekanan,” katanya.