Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli

Jejak Pustaka Haji Asal Jawa di Singapura

Sunu Dyantoro

4 menit baca

Jejak Pustaka Haji Asal Jawa di Singapura

Enggak jauh dari Masjid Sultan Singapura, sedikit ke tenggara, lukisan dinding seorang pria bersarung kotak-kotak biru muda, memperindah tembok bangunan. Berkopiah haji putih, sosok dalam lukisan itu mengenakan baju koko dengan warna seirama penutup kepalanya.

Ada dua bingkai besar mural di Bussorah Street yang ujungnya bertemu dengan Arab Street di Kampong Glam, atau Gelam, yang mempertontonkan figur berwajah menjelang senja itu. Suatu kawasan warisan budaya yang banyak dikunjungi wisatawan.

Pigura semu mural paling besar memajang lukisan dia memegang galah. Ujung genter itu menyangga keranjang anyaman rotan. Sedangkan pada rangka imaji yang lain, lelaki ini digambarkan sedang naik tangga dengan citraan keranjang yang sama di tangan kanannya.

Kedai teh tarik, teh campur susu ala Melayu, cukup ramai pengunjung di lokasi itu. “Teh tariknya enak, dan terkenal,” kata Winahyu Dwi Utami. Orang Pekanbaru, Riau, ini berkunjung ke Singapura pada Selasa, 22 September 2026. Sebelumnya, ia pernah berkunjung ke Temasek dan mampir di kedai teh tarik itu.

Dari kejauhan, mural ini mirip adegan pemilik kios berkegiatam di rumah toko beraksen tempo dulu. Ini mirip kawasan pertokoan tua di kawasan Glodok Jakarta, Kembang Jepun Surabaya, Kesawan Medan, Gresik, Ampenan Lombok, dan sejumlah kota empunya zona heritage lainnya.

Pada “bingkai” lukisan yang lebih kecil, di atasnya tertulis “Pustaka Haji Muhammad Said”. Rasa penasaran pun muncul, siapakah Haji Muhammad Said itu?

Pengecekan di laman BiblioAsia, publikasi kuartal gratis yang diterbitkan National Library Board (NLB) Singapura menyebutkan Haji Said adalah orang asal Kauman Semarang, Jawa Tengah. Pemilik nama lengkap Haji Muhammad Said bin Haji Arsyad, dan Haji Muhammad Siraj bin Haji Salih asal Rembang, nama kabupaten di Jawa Tengah adalah pemilik perusahaan percetakan dan penerbitan Melayu. Mereka bermukim di kawasan itu, sekitar Masjid Sultan.

Dua tokoh percetakan Melayu ini dikenal paling produktif di Singapura pada pertengahan hingga akhir abad ke-19. Haji Muhammad Said beserta anak-anaknya menerbitkan lebih dari 200 karya berbahasa Melayu antara tahun 1873 dan 1918. Pada kurun waktu yang sama, Haji Muhammad Siraj menerbitkan sekitar 80 buku.

Mereka tinggal di situ karena seputaran masjid ini adalah pusat perdagangan ramai, tempat komunitas Muslim setempat berkumpul setiap hari Jumat usai menunaikan ibadah salat. Kawasan ini juga menjadi tempat singgah bagi banyak jemaah haji, khususnya yang berasal dari Indonesia, dalam perjalanan mereka menuju Mekah.

Haji Muhammad Said, bersama rekan-rekan sesama orang Jawa: Haji Muhammad Nuh bin Haji Ismail al-Badawi dari Juwana, Syaikh Haji Muhammad Ali bin Haji Mustafa dari Purbalingga, Haji Muhammad Salih dari Rembang, Haji Muhammad Tahir, dan Encik Muhammad Sidin merupakan pencetak karya Melayu terkemuka di Singapura antara tahun 1860 hingga 1880.

Terbitan litograf awal pada masa ini umumnya diproduksi secara bersama-sama melalui kontribusi juru tulis serta pemilik naskah dan mesin cetak. Nama pencetak dan penjual dicantumkan secara resmi dalam kolofon. Suatu pernyataan yang memuat informasi mengenai kepengarangan dan pencetakan buku, sering kali disertai dengan lambang. Para pencetak itu cenderung menghasilkan buku yang bentuknya menyerupai manuskrip Melayu.

Yang juga menarik, laman milik National Library Board Singapura itu juga menyebutkan sumbangsih Syaikh Fadhlullah bin Suhaimi (1886–1964), tokoh pendidikan Islam Singapura yang berdarah Jawa. Ia dikenal sebagai salah satu ulama besar yang berpengaruh dalam menyebarkan dakwah Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Singapura pada paruh pertama abad ke-20 M.

Selain itu, Syaikh Fadhlullah bin Muhammad Suhaimi juga tercatat sebagai tokoh penting dalam sejarah pendidikan Islam modern di Singapura. Tokoh ini memiliki ikatan kebangsaan, kebudayaan, dan keilmuan yang sangat kuat dengan Jawa. Kiai Suhaimi (1843–1925), ayahanda Syaikh Fadhlullah, berasal dari Kampung Sudagaran, Wonosobo Jawa Tengah.

Kiai Suhaimi pernah belajar di Pesantren Tremas Pacitan, pada masa pengasuhan Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo yang wafat tahun 1862. Ia adalah kakek Syaikh Mahfdz Tremas yang wafat 1920).

Dari Tremas, Kiai Suhaimi kemudian pergi ke Makkah. Di sana, ia belajar kepada Syaikh Nawawi Banten (1813–1897). Setelah menyelesaikan pendidikannya di Timur Tengah, Kiai Suhaimi kemudian berkarier di Singapura dan Selangor Malaysia.

Sayang, kami tidak punya waktu mewah untuk menelusuri lebih dalam tentang jejak pustaka milik haji asal Jawa ini. Mungkin, tak salah kalau kita mengutip pesan Kiai Saleh Darat atau Mbah Saleh Darat yang kitabnya diterbitkan  percetakan milik para haji Singapura itu.

Karya Mbah Saleh Darat “Tafsir Faid al-Rahman fi Tarjamah Kalam Malik Dayyan”, kitab tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa berhuruf Pegon dicetak pertama kali di Singapura sekitar tahun 1894. Selain itu, “Risalah Majmu’ah Asy Syari’ah” juga cetak di Singapura 1892.

Karya lain Mbah Sholeh Darat yang peredarannya sampai Singapura dan Bombay, India, adalah “Minhajul Atqiya”, “Kitab Al-Mahabbah wal Mawaddah fi Tarjamah Qouli al-Burdah”, “Kitab al-Fiyatut Tauhid”, “Kitab Fasholatan”, dan “Kitab Manasik al-Hajji wal Umroh wa Adabizziyaroti”.

Mbah Saleh Darat adalah guru banyak tokoh di antaranya pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari dan peletak dasar Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Pahlawan emansipasi perempuan Raden Ajeng Kartini juga belajar mengaji kepada Mbah Saleh Darat.

Kiai besar Semarang ini berwasiat, “Lamun negoro ora ono iku kabeh, maka yekti rusak menusane ora biso luru pangan kerono kabeh ngarah manfaate menuso ing dalem dunyo supoyo biso lumaku marang tha’atillah lan marang akhirat.”

Terjemahan kira-kira begini. “Jika negara tidak memiliki itu semua, maka rusak manusianya dan tidak bisa mencari makanan. Sebab, itu terkait kemanfaatan manusia hidup di dunia, mereka agar selalu taat kepada Allah dan menuju akhirat.”