Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli

Ke Singapura via Batam: Dari Changi, Taman Merlion, hingga Kampong Glam

Sunu Dyantoro

6 menit baca

Ke Singapura via Batam: Dari Changi, Taman Merlion, hingga Kampong Glam

Hujan deras menyiram kawasan patung ikonik Merlion di Merlion Park, One Fullerton Singapura siang itu. Sejumlah turis yang semula berfoto-foto dan menikmati pemandangan di arca mitologi setengan singa dan separuh ikan itu lari berhamburan. Mereka minggir, berteduh di café, restoran, atau teras bangunan.

Prakiraaan cuaca, Selasa, 22 September 2026, sebenarnya menyebutkan hujan akan tercurah dari langit pada pukul 13.00. Namun, curahan air mengguyur area reca Merlion di Singapura itu lebih awal, saat jam masih menunjuk jarum sebelasan. Zona Marina Bay pun basah. “Aduh, hujan tiba lebih awal,” kata Mira, warga Batam, sedikit mengeluh.

Ia adalah teman perjalanan kami berempat ke Singapura dari Batam menggunakan kapal ferry. Sebagian dari kami sebenarnya pernah bertandang ke negeri berpenduduk 6 jutaan jiwa ini melalui penerbangan, turun di Bandar Udara Changi. Itu pun tidak sekali. Kali ini, kami yang bukan penduduk Batam, menjajal masuk Singapura via pintu masuk berbeda. Kami ingin merasakan kenikmatan dan bedanya.

Dari Batam, pagi-pagi, kami naik kapal ferry dari Terminal Ferry Internasional Batam Center. Ini merupakan salah satu gerbang internasional yang sibuk di Batam dengan tujuan Singapura dan Malaysia. Calon penumpang bisa masuk pelabuhan ini lewat Mega Mall Batam Center.

Setelah melalui proses imigrasi dan ticketing yang tidak terlalu rumit, kami naik Batam Pass, nama kapal ferry itu. Berlayar satu jam, kami tiba di Tanah Merah Ferry Terminal. Pelabuhan ini dibangun di hampir ujung timur-selatan Pulau Singapura. Enam kilometer dari pelabuhan ini kita bisa menggapai Bandar Udara Internasional Changi Singapura.

Dari Tanah Merah, kami memesan mobil transportasi online, lalu bergerak ke Bandara Changi. Tujuannya bukan terbang, tapi menikmati Jewel Changi Airport. Taman hiburan bernuansa alam ini dibuka 2019 lalu dan menempel dengan terminal 1 kedatangan.

Prinsip taman ini adalah air terjun di dalam ruangan. Teknologinya mengandalkan sistem sirkulasi air hujan tertutup, pendinginan mandiri, dan arsitektur ramah lingkungan. Mirip air terjun Tawangmangu di Karanganyar, Jawa Tengah, yang tebing gunungnya penuh dengan aneka tanaman, demikian juga Jewel Waterfall.

Hanya saja, “tebing” di Changi ini berbentuk tabung besar. Aneka tanaman tropis memagari keliling silinder raksasa ini. “Singapura tidak punya alam mirip Indonesia, membangun air terjun di keramaian Changi,” kata Winahyu Dwi Utami, warga Pekanbaru, anggota rombongan kami.

Selanjutnya kami naik GrabCar untuk bergerak ke Merlion Park, Taman Patung Merlion. Tidak terlalu jauh, kami turun di halte depan Fullerton Square. Dari sini, kami jalan kaki sekitar lima menit untuk mendekati patung Merlion.

Di taman ini, ada prasasti yang mengabarkan alasan Perdana Menteri Singapura saat itu, Lee Kuan Yew, membangun Patung Merlion. Prasasti berbahasa Inggris itu menyatakan, “Merlion ini didirikan sebagai lambang untuk menyambut semua pengunjung ke Singapura.”

Lee Kuan Yew meresmikan patung bertinggi 8,6 meter dan berat 70 ton ini pada 15 September 1972 di mulut Sungai Singapura. Pemerintah Singapura memasang prasasti perunggu tersebut untuk mengabadikan inaugurasi itu.

Sejak 2002, pemerintah menggeser Patung Merlion sejauh 120 meter dari lokasi asal ke tempat berdiri saat ini, menghadap Marina Bay. Alasannya, pada 1997, pembangunan Esplanade Bridge rampung yang mengakibatkan Patung Merlion tertutup dan tak tampak jelas dari tepi laut.

Puas menikmati air terjun Changi dan arca Merlion, kami beringsut ke Kampong Glam di Distrik Rochor menumpang bus kota berkode 100. Kampung ini mengambil nama jenis pohon, glam atau glam. Di banyak sudut nusantara, kayu ini punya sebutan kayu putih. Di kampung inilah Singapura bermula.

Di sini juga, di masa silam, puak Bugis, Jawa, Palembang, dan komunitas lain berlabuh. Mereka membuang sauh perahunya untuk berniaga. Di tempat ini pula dulu bermukim orang Arab. Ada Arab Street yang di kiri-kanannya banyak toko milik orang-orang dari Timur Tengah.

Di antaranya toko suvenir yang menjual lampu, pernik, lukisan, dan aneka tanda mata lain bergaya Timur Tengah. Mereka menjual kaligrafi bertuliskan “Allah” dan “Muhammad”, hingga lukisan Maria, Yesus, dan Budha dalam pigura cantik.

Ada Haji Lane, semacam pondok haji, atau asrama haji buat mereka yang hendak beribadah ke Mekah dan Madinah. Dekat dari situ, berdiri Masjid Raya Sultan yang berkubah emas. Masjid berarsitekur indah ini berdiri sejak 1826 di antara Muscat Street dan North Bridge Road. Masjid ini dibangun pada masa Sultan Hussain Syah saat Singapura masih menjadi bagian dari Kesultanan Johor.

Di kawasan ini, kami menikmati makanan khas Melayu. Berseberangan jalan, agak ke kiri, dari Masjid Raya Sultan, berdiri warung makan Padang yang cukup besar. Bersebarangan dengan jalan lain dari restoran Padang ini, kami menyaksikan Malay Heritage Centre atau Taman Warisan Melayu.

Taman ini merupakan pusat kebudayaan dan museum di Singapura yang menampilkan sejarah, budaya, dan sumbangan masyarakat Melayu. Dulunya, kawasan ini adalah istana Kesultanan Melayu.

Di sana ada galeri permanen sejarah maritim nusantara, perdagangan, dan kehidupan masyarakat Melayu. Ada juga koleksi tekstil tradisional, naskah kuno, senjata, dan diorama. Taman ini juga menjadi ruang publik untuk pameran seni, program budaya, dan kegiatan komunitas.

Dari Kampong Glam, kami berjalan kaki mengarah ke Bugis Junction lalu ke Bugis Street. Di kawasan tempat dagang orang Bugis Sulawesi Selatan sejak 1819 ini, kami menengok dan membeli aneka sandang yang kualifikasinya mirip dengan Pasar Tanah Abang Jakarta atau Pasar Turi Surabaya.

Suasana Indonesia sungguh terasa di sana. Saat menikmati zona ini, kami bertemu orang Medan, Aceh, dan Batam. Kami juga berjumpa rombongan karyawan perusahaan pelayaran dan logistik besar dan terkenal yang kantor pusatnya di Jakarta. “Kami jalan-jalan mas. Kami menginap di Johor, lalu rombongan kami naik bis ke Singapura,” ujar seorang dari mereka, berlogat Jakarta.

Buat kamu yang rindu masakah Indonesia saat jalan-jalan di Bugis Street, enggak usah khawatir. Di sana ada restoran ayam penyet, mirip yang banyak kita jumpai di kota-kota besar di Indonesia. Warung Leko yang gerainya bertebaran di bejibun sudut nongkrong Jakarta, juga bisa kamu temui di daerah Bugis Street.

Dari situ, kami meneruskan petualangan di Singapura dengan naik taksi online ke Gardens by the Bay. Suatu taman nasional dengan mahakarya hortikultura dan seni taman. Gardens menyajikan tumbuhan dengan cara baru, menghibur, dan mendidik.

Sayang kami tidak bisa terlalu menikmati karena hujan dan senja telah menyergap. Sebenarnya, bagi kami, kekayaan koleksi Kebun Raya Bogor tidak kalah. “Bedanya, di sini penataannya dan manajemennya bagus,” kata Winahyu.

Kelana sehari di Singapura kami akhiri dengan berkunjung ke Pulau Sentosa. Pulau ini persis berada di selatan pulau utama Singapura, Temasek, mengarah ke Batam. Pulau ini adalah destinasi wisata terkemuka di Asia. Di sana ada resor seluas 500 hektare yang memiliki beragam atraksi bertema yang menarik. Di pulau ini juga ada tempat bermain casino, dan taman hiburan Universal Studios.

Hari telah malam. Kami harus segera balik. Sampai di pelabuhan ferry HarbourFront Centre atau Singapore Cruise Center, kami mendapatkan pelayaran pada jam nomor dua paling akhir, jam sembilanan malam waktu Singapura. Dengan beda waktu satu jam antara Singapura, kami tiba di Batam pukul sembilan malam.

Sembari tetap memendam ribang karena belum semua tujuan pelesiran di Singapura kami datangi, lirik lagu “Lost In Singapore” mengiang di kepala. Lagu ini gubahan Tropea, ber-genre pop rock santai dan dirilis 2018. Sure, it’s been a mighty long time. I miss those friends of mine. I was lost in Singapore, not anymore…

Catatan: naskah mendapatkan sedikit revisi detail pada Senin, 28 September 2026.