Batik merupakan warisan budaya yang telah diakui dunia memiliki perjalanan panjang yang tidak terlepas dari sejarah masyarakat, perdagangan, lingkungan, dan pertukaran budaya. Keragaman batik yang berkembang di berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan bahwa batik terus mengalami perubahan seiring dengan perjumpaan masyarakat dengan berbagai kebudayaan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Keragaman batik Indonesia merupakan salah satu kekuatan yang perlu dipahami dalam konteks sejarah. Berbagai motif dan teknik berkembang di sejumlah daerah dengan latar belakang lingkungan dan kebudayaan yang berbeda. “Perkembangan tersebut berlangsung melalui proses adaptasi dan pertukaran pengetahuan antarmasyarakat, termasuk melalui hubungan perdagangan,” kata Laretna Trisnantari Adhisakti, Dosen Purna UGM.
Ia sekaligus adalah Chair UNESCO Chair of Heritage Cities Conservation and Management. Laretna menyampaikannya dalam Seminar Nasional Batik yang bertajuk “Merawat Warisan, Menumbuhkan Masa Depan: Batik sebagai Identitas Budaya dan Ruang Inovasi” yang dilaksanakan di auditorium gedung Soegondo Fakultas Ilmu Budaya UGM, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Dalam pemaparannya, Laretna menelusuri perkembangan batik melalui perjalanan pengetahuan, perdagangan, dan hubungan budaya hingga akhirnya dikenal di berbagai negara. Salah satu aspek yang disorot Laretna adalah hubungan batik dengan perdagangan bahan pewarna alami. Perdagangan rempah dan bahan pewarna, termasuk indigo atau nila, turut menjadi bagian dari perkembangan batik.
“Di Jawa, aktivitas perdagangan tersebut kemudian berkaitan dengan munculnya berbagai industri, seperti produksi gula, kopi, tembakau, dan indigo,” ungkapnya.
Namun, perkembangan teknologi pewarna sintetis membawa perubahan besar dalam penggunaan bahan pewarna pada batik. Pewarna sintetis mulai dikembangkan di Jerman pada 1856 dan secara bertahap menggantikan penggunaan pewarna alami.
Perubahan ini, menurut Laretna, menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam upaya menghidupkan kembali penggunaan pewarna alam.“Setelah pewarna sintetik 1856 di Jerman, mulailah musnah pewarna alam itu. Nah, ini yang sebenarnya, mohon silakan dilakukan bagaimana untuk selanjutnya bisa kita kembalikan,” ujar Laretna.
Selain melalui perdagangan, perkembangan batik juga berlangsung melalui pertukaran budaya antarnegara. Laretna menyinggung pengaruh India dalam perkembangan sejumlah tradisi batik di Jawa. Salah satunya berkaitan dengan kain Patola dari India yang kemudian mengalami proses adaptasi dalam kebudayaan Jawa. Proses tersebut turut melahirkan tradisi batik Nitik yang kini dikenal sebagai salah satu batik khas Yogyakarta.
Jejak pertukaran budaya juga terlihat dalam hubungan Indonesia dengan Thailand. Laretna menceritakan kunjungan Raja Thailand Chulalongkorn ke Jawa pada 1871. Dalam kunjungan ini, ia membeli 307 lembar batik yang kemudian tersimpan selama sekitar satu abad sebelum akhirnya diperkenalkan kembali melalui sebuah pameran di Thailand.
Berbagai catatan itu, imbuh Laretna, menunjukkan bahwa batik telah menjadi bagian dari hubungan budaya lintas negara sejak lama. Perjumpaan dengan India, Thailand, Jepang, Tiongkok, dan berbagai wilayah lainnya turut melahirkan keragaman baru dalam perkembangan batik. Dengan demikian, perkembangan batik tidak dapat dilepaskan dari proses pertukaran budaya yang berlangsung antarmasyarakat.
Hubungan lintas budaya itu kemudian berlanjut melalui diplomasi budaya. Laretna mencontohkan berbagai pameran, pertunjukan, lokakarya, dan kegiatan pendidikan batik yang dilakukan di sejumlah negara, seperti Portugal, Jepang, Swedia, Latvia, Belanda, Sri Lanka, Tiongkok, hingga Taiwan. Melalui berbagai kegiatan tersebut, batik diperkenalkan bukan sekadar sebagai produk, melainkan juga bersama pengetahuan mengenai proses pembuatan dan nilai budaya yang menyertainya.
Dalam proses tersebut, generasi muda dinilai memiliki peran penting untuk melanjutkan diplomasi budaya. Kemampuan berbahasa asing dan pemahaman terhadap kebudayaan dapat menjadi modal untuk memperkenalkan batik kepada masyarakat internasional. Perguruan tinggi pun dapat menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik.
Di sisi lain, keberlanjutan juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberadaan batik. Laretna menilai bahwa batik sebagai warisan budaya membutuhkan keberlangsungan para perajin, pengetahuan tradisional, serta lingkungan yang mendukung proses produksinya. “Karena itu, batik perlu tetap berpijak pada kearifan lokal sekaligus mampu beradaptasi dengan kebutuhan masa kini,” paparnya.
Pandangan ini emudian ia kaitkan dengan konsep ekonomi regeneratif. Menurut Laretna, keberlanjutan tidak cukup hanya dilakukan dengan mengurangi dampak terhadap lingkungan. Lebih dari itu, kegiatan ekonomi perlu mampu memulihkan lingkungan sekaligus menciptakan nilai baru bagi masyarakat.
“Tidak lagi seperti ekonomi ekstraktif yang eksploratif, yang sumber daya diambil semuanya dan akhirnya hilang. Tidak juga seperti ekonomi sekuler yang hanya mengurangi dampak atau kemudian mengembalikan pada kondisi semula. Ekonomi regeneratif itu justru harus memulihkan lingkungan, melahirkan karya baru, dan harus bisa diproduksi lagi lebih baik daripada semula,” katanya.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Nur Saktiningrum, menyampaikan batik merupakan bagian dari identitas budaya Indonesia yang menyimpan pengetahuan mengenai masyarakat, lingkungan, keanekaragaman hayati, dan sejarah bangsa. Oleh karena itu, peringatan Hari Batik Nasional menjadi momentum untuk memastikan warisan tersebut tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.
Upaya ini dilakukan FIB UGM melalui kajian sekaligus praktik kebudayaan. Mahasiswa tidak hanya mempelajari batik dari berbagai perspektif, tetapi juga mengenal proses membatik secara langsung. Praktik ini bahkan diikuti oleh mahasiswa asing yang belajar di FIB UGM, sehingga pengetahuan mengenai batik dapat diperkenalkan melampaui batas negara.
“Kelas-kelas praktik kebudayaan ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Indonesia. Mahasiswa asing yang belajar di FIB UGM ikut menari, menabuh gamelan, dan membatik. Rata-rata, setiap tahunnya, kita didatangi sekitar 300–350 mahasiswa asing. Di tangan mereka, praktik menyeberang ke batas negara,” ucapnya.
Selain melihat batik dari sisi pelestarian, Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Wening Udasmoro, menekankan pentingnya memahami batik sebagai bagian dari kebudayaan yang terus berkembang. Menurutnya, batik tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai produk yang dihasilkan dan digunakan masyarakat.
Pandangan yang hanya menempatkan batik sebagai produk dapat membuat gagasan dan praktik budaya yang menyertainya luput dari perhatian. Kalau kita melihat batik sebagai bagian dari kebudayaan, kata dia, kita sering mengalami pendapat atau pemikiran bahwa batik itu hanya sebuah produk.
“Padahal, setiap pembicaraan mengenai kebudayaan paling tidak memiliki tiga aspek. Yang pertama memang itu adalah hasil kebudayaan, sebuah produk. Namun, jangan lupa bahwa kebudayaan juga memiliki aspek lain, yaitu gagasan dan perilaku,” katanya.
Gagasan dan perilaku tersebut, lanjut Wening, dapat dilihat dari cara batik berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Setiap daerah memiliki kreativitas dan karakter masing-masing dalam mengembangkan batik, sehingga batik turut menjadi bagian dari proses pembentukan identitas budaya lokal.
Dengan demikian, kata dia, tradisi batik tidak berhenti pada bentuk yang telah ada, tetapi terus diciptakan dan disesuaikan dengan kehidupan masyarakat. Kita bisa melihat batik berkembang di mana-mana. Semua daerah menunjukkan kreativitas batik masing-masing.
“Ada batik dari Magelang, batik dari Jawa Timur, semua punya. Bahkan Papua juga punya batik Papua yang warna-warni. Meskipun dibuat di Pekalongan, paling tidak ada batik Papua sebagai bagian dari identitas yang terbangun,” tuturnya.
Batik sebagai warisan budaya tidak harus berhenti pada bentuk masa lalu. Batik dapat terus bergerak mengikuti perubahan masyarakat, selama pengetahuan, perajin, lingkungan, dan nilai budaya yang menyertainya tetap dijaga. Pada titik inilah pelestarian batik tidak hanya berarti mempertahankan sebuah produk, tetapi juga memastikan kebudayaan yang hidup di baliknya terus diwariskan dan berkembang.





