Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli

Padi UGM Bakal Ditanam di Namibia Afrika

Admin

3 menit baca

Padi UGM Bakal Ditanam di Namibia Afrika

Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan Namibia University of Science and Technology (NUST) pada Rabu, 17 September 2026 di Gedung Pusat UGM. Kunjungan ini membahas penguatan kerja sama kedua institusi melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), dalam bidang pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas teknis, serta kolaborasi di bidang pertanian dan teknologi. Salah Satunya peluang untuk menanam padi varietas Gamagora di Namibia.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kemitraan UGM, Danang Sri Hadmoko, menyambut baik peluang kolaborasi dengan NUST. Menurutnya, sebagai universitas komprehensif, UGM memiliki berbagai bidang keilmuan yang dapat dikembangkan bersama, tidak hanya dalam bidang pertanian, tetapi juga teknologi, kesehatan, dan pendidikan. Ia berharap pembahasan yang dilakukan bersama NUST dapat diarahkan pada bentuk kolaborasi yang dapat segera diimplementasikan.

Kerja sama ini menurut Danang diarahkan pada penguatan kapasitas teknis NUST, terutama dalam pengembangan infrastruktur pengolahan dan fasilitas pendukung kegiatan akademik. Selain itu, kedua belah pihak akan melanjutkan pembahasan mengenai pengembangan kurikulum, perencanaan infrastruktur, fasilitas laboratorium, serta kebutuhan peralatan khusus.

“Kami juga ingin melanjutkan dan memformalkan diskusi yang telah dilakukan oleh UGM. Kami melihat ada banyak hal yang dapat kami pelajari dari pengalaman UGM,” katanya.

Di bidang pertanian, salah satu inovasi UGM yang menjadi peluang untuk dikembangkan dalam kerja sama adalah penanaman padi amfibi atau padi Gamagora 7 yang sudah dikembangkan oleh tim peneliti UGM. Inovasi ini ditujukan untuk mendukung pertanian di wilayah dengan keterbatasan air.

UGM melihat peluang pemanfaatannya untuk mendukung kebutuhan pangan di Namibia. “Kami memiliki padi amfibi yang dikembangkan untuk daerah yang mengalami kekurangan air. Saat ini kami sedang merencanakan produksi dalam skala yang lebih besar,” ujar Danang.

Ia menambahkan bahwa peluang kerja sama tidak harus berhenti pada tingkat perguruan tinggi, dapat pula dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat di wilayah NUST. “Kami berharap inovasi tersebut nantinya tidak hanya digunakan di universitas, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara lebih luas,” katanya.

Selain pertanian, kedua universitas juga membahas peluang kerja sama di bidang biomedical engineering. NUST menyampaikan ketertarikan terhadap pengembangan teknologi biomedis, sementara UGM memiliki pengalaman dalam mengembangkan hasil riset menjadi produk teknologi kesehatan.

“Selain pertanian, kami juga memiliki bidang lain seperti biomedical engineering. Jadi, kami terbuka untuk membicarakan kemungkinan kolaborasi di bidang tersebut,” kata Danang.

Pertukaran pengalaman turut mencakup digitalisasi pendidikan dan pengelolaan universitas. Kedua pihak membahas penerapan learning management system (LMS), otomasi proses akademik, pemanfaatan kecerdasan artifisial, serta peluang penyelenggaraan pembelajaran bersama secara daring.

Menurutnya, pengalaman ini dapat menjadi bagian lain dari pengetahuan yang dapat dipertukarkan dengan NUST, termasuk dalam pengembangan pembelajaran daring dan program pendidikan pada jenjang magister maupun doktor. “Kami sudah banyak menggunakan sistem digital dalam berbagai proses di universitas,” kata Danang.

Deputy Vice Chancellor for Teaching and Learning NUST, Teresia Kaulihowa, menjelaskan NUST tengah mengembangkan kampus satelit, yaitu kampus cabang yang berada di luar kampus utama. Kampus yang direncanakan berada di luar ibu kota Namibia ini akan berfokus pada bidang pertanian dan sumber daya alam.

“Kami telah mengidentifikasi Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Pertanian UGM sebagai mitra utama untuk membantu kami mengembangkan kampus tersebut,” ucap Teresia.

Menurut Teresia, pengalaman UGM dalam pengembangan pendidikan dan infrastruktur pertanian menjadi salah satu hal yang ingin dipelajari NUST. Pertukaran pengetahuan tersebut diharapkan dapat membantu NUST dalam merancang fasilitas dan sistem pendukung untuk kampus barunya.

“Kami ingin belajar dari pengalaman UGM, khususnya mengenai infrastruktur, peralatan khusus, dan bagaimana teknologi modern dapat diintegrasikan ke dalam bidang pertanian,” tuturnya.

Melalui kunjungan ini, UGM dan NUST menjajaki kerja sama yang lebih konkret melalui penandatanganan MoU, benchmarking dan pertukaran pengetahuan, penguatan kapasitas teknis, serta pengembangan kampus, kurikulum, laboratorium, infrastruktur, dan peralatan pertanian. Kerja sama juga mencakup peluang pengembangan teknologi kesehatan, digitalisasi pendidikan, serta pemanfaatan inovasi UGM untuk mendukung kebutuhan masyarakat Namibia.