Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli
Uncategorized

Berlatih untuk Darurat Kelak, Simulasi Respons Wabah Penyakit Besar

Admin

3 menit baca

Berlatih untuk Darurat Kelak, Simulasi Respons Wabah Penyakit Besar
Seorang pria berdiri di samping jenazah isterinya yang meninggal dunia akibat COVID-19 di sebuah rumah sakit pemerintah di tengah merebaknya wabah SARS-CoV-2 di Bijnor, Uttar Pradesh, India, Selasa (11/5/2021). Sumber Foto: ANTARA FOTO/REUTERS/Danish Siddiqui/wsj.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyelesaikan Latihan Polaris II, sebuah latihan simulasi tingkat tinggi selama 2 hari. Pelatihan ini didasarkan pada wabah bakteri baru fiktif yang menyebar ke seluruh dunia.

Latihan berlangsung pada 22 dan 23 April ini, melibatkan 26 negara dan wilayah, 600 pakar darurat kesehatan, dan lebih dari 25 mitra. Kegiatan ini memungkinkan negara-negara untuk menguji kesiapan mereka menghadapi pandemi dan keadaan darurat kesehatan besar lainnya. Termasuk mengaktifkan struktur tenaga kerja darurat mereka, aliran informasi, dan koordinasi satu sama lain, mitra, dan WHO.

Berbekal kesuksesan Polaris I yang diadakan pada April 2025, yang berpusat pada virus fiktif, setiap negara peserta mengaktifkan struktur koordinasi daruratnya. Mereka bekerja dalam kondisi nyata untuk berbagi informasi, menyelaraskan kebijakan, dan meningkatkan jumlah tenaga kerja mereka.

“Latihan Polaris II menunjukkan apa yang mungkin terjadi ketika kita bertindak bersama. Ini menunjukkan kerja sama global bukanlah pilihan, melainkan suatu keharusan,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO dalam keterangan, Senin, 27 April 2026.

“Inilah tujuan dari Korps Darurat Kesehatan Global: koordinasi di seluruh tenaga kerja darurat, membangun kepercayaan, memperkuat hubungan, dan bekerja sebagai satu kesatuan lintas batas.”

Simulasi ini mempraktikkan dua kerangka kerja utama WHO. Yaitu kerangka kerja Global Health Emergency Corps (GHEC) dan kerangka kerja peringatan dan respons darurat kesehatan nasional. Simulasi juga mengeksplorasi penggunaan alat berbasis AI untuk mendukung Ypengorganisasian dan perencanaan tenaga kerja.

Kerangka kerja GHEC, yang diterbitkan pada Juni 2025, memberikan panduan tentang bagaimana negara-negara memperkuat tenaga kerja kesehatan mereka. Tujuannya untuk menanggapi keadaan darurat berdasarkan prinsip kedaulatan, kesetaraan, dan solidaritas.

Kerangka kerja ini meningkatkan kolaborasi antar negara dengan mendukung pertukaran informasi dan memperkuat pengerahan personel darurat regional dan global bila diperlukan.

Kerangka kerja peringatan dan respons darurat kesehatan nasional, yang diterbitkan pada Oktober 2025, menguraikan fungsi-fungsi utama, sistem koordinasi, dan tindakan yang diperlukan untuk respons yang efektif di tingkat lokal, sub-nasional, dan nasional.

Edenilo Baltazar Barreira Filho, Direktur Departemen Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Brasil, mengatakan dengan mensimulasikan penyebaran patogen berbahaya dalam kondisi nyata, Latihan Polaris II membantu kami mengubah rencana yang ada menjadi tindakan.

“Tidak cukup hanya memiliki rencana di atas kertas, yang penting adalah bagaimana rencana tersebut berjalan dalam praktiknya,” kata Edenilo Baltazar Barreira Filho.

Latihan ini juga memberikan kesempatan untuk mempraktikkan penyediaan keahlian teknis dan dukungan darurat yang terkoordinasi kepada negara-negara dari lebih dari 25 badan dan organisasi kesehatan nasional, regional, dan global.

Termasuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Médecins Sans Frontières, Institut Robert Koch, UK-Med, UNICEF, dan jaringan darurat seperti Jaringan Peringatan dan Respons Wabah Global, inisiatif Tim Medis Darurat, Mitra Siaga, dan Asosiasi Internasional Lembaga Kesehatan Masyarakat Nasional.

“Latihan Polaris II menunjukkan seperti apa hasilnya ketika negara-negara siap dan siaga untuk bertindak bersama,” kata Dr. Chikwe Ihekweazu, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO.

“Ini mencerminkan semangat Korps Kedaruratan Kesehatan Global: tenaga kerja darurat yang terorganisir dengan baik, terlatih, terkoordinasi, dan terhubung, siap untuk merespons di mana pun dan kapan pun dibutuhkan.”

Edisi kedua latihan ini menyaksikan partisipasi dan kolaborasi dari lebih banyak negara melalui jaringan baru seperti Jaringan Pemimpin Darurat Kesehatan untuk Afrika dan Mediterania Timur yang baru diluncurkan .

Latihan Polaris II adalah bagian dari HorizonX, program latihan simulasi multi-tahun yang berwawasan ke depan dari WHO. Latihan ini menyediakan platform penting untuk mengoperasionalkan dan mempraktikkan kerangka kerja darurat dalam kondisi nyata. Kegiatan ini memastikan bahwa kesiapan kolektif bukanlah upaya periodik, tapi investasi berkelanjutan dalam keamanan kesehatan global.