Saat mengamati ayam mengeram, mungkin muncul pertanyaan mengapa ayam bertelur dan tidak beranak seperti sapi atau kucing? Pakar Genetika Ekologi IPB University Ronny Rachman Noor mengungkap jawaban mengapa ayam dan unggas lainnya “memindahkan” rahimnya ke luar tubuh.
”Meski tampak sederhana, jawabannya terkait sejarah evolusi ayam, strategi bertahan, dan adaptasi unik serta menakjubkan,” ujarnya.
Ronny menjelaskan, nenek moyang burung memilih jalur evolusi berbeda sekitar 320 juta tahun lalu. Saat itu, reptil mengalami inovasi telur amniotik dengan cangkang keras, kuning dan putih telur, serta kantung ketuban.
Inovasi ini memungkinkan embrio bertahan dan berkembang di darat tanpa air. Burung, termasuk ayam, mewarisi hasil evolusi ini. Titik awal cabang terjadi pada ikan yang berevolusi menjadi amfibi, reptil, dan burung.
“Secara genetik, ayam lebih dekat dengan T-Rex daripada sapi. Dari sisi evolusi, ayam adalah reptil bersayap yang mempertahankan sistem kunonya agar dapat bertahan dan beradaptasi, yaitu bertelur. Dengan demikian, telur lebih tua daripada ayam,” kata Ronny sekaligus menjawab pertanyaan ilmiah klasik “Ayam atau telur yang lebih dulu ada?”
Lalu, apa keistimewaan telur? “Bagi ayam, telur adalah rahim portabel karena cangkang dan membran berfungsi sebagai plasenta, seperti pada mamalia. Putih telur sebagai bantalan dan cadangan air, kuning telur sumber makanan, dan amnion seperti air ketuban.
Evolusi ini luar biasa karena semua fungsi rahim mamalia dipindahkan ke luar tubuh ayam dan unggas,” ujar Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University ini.
Selain itu, lanjut Ronny, jalur evolusi mengeram pada ayam dipilih karena suhu tubuh ayam berkisar antara 41–42 °C. “Suhu ini terlalu panas untuk embrio jika dibesarkan di dalam tubuh ayam. Oleh sebab itu, dengan bertelur, induk ayam dapat mengatur suhu pengeraman telur dengan lebih fleksibel,” ucapnya.
Faktor lain adalah berat tubuh. Unggas dan ayam memilih bertelur agar tetap ringan dan gesit menghindari predator. “Jika ayam beranak, janin membuat tubuh menjadi berat dan mengganggu kemampuannya terbang, sehingga sulit bertahan dari predator di alam bebas,” urai Prof Ronny.
Strategi reproduksi ayam juga berbeda dari mamalia. Ayam memakai “strategi R” yang cepat dan banyak anak karena lebih rentan terhadap predator dan lingkungan. Sebaliknya, sapi memilih “strategi K” yang sedikit anak tetapi membutuhkan investasi besar untuk membesarkannya.
Ronny mengatakan bahwa manusia berperan besar mengubah jumlah telur ayam melalui seleksi. Ayam hutan, nenek moyang ayam modern, bertelur 12 butir per tahun karena jumlah ini optimal untuk kelangsungan hidup anaknya.
“Program seleksi membuat ayam modern bertelur 300 butir per tahun. Meski jumlahnya berbeda drastis, kedua jenis ayam tetap bertelur karena cara paling efisien bertahan di lingkungan tidak menentu dan dari predator,” katanya.
Menurut Ronny, hal ini menunjukkan evolusi tidak selalu berujung pada bentuk yang lebih canggih, melainkan yang cocok dengan lingkungan. Ayam bertelur adalah hasil evolusi yang paling sesuai karena memungkinkan ayam tetap ringan dan bertelur banyak, meningkatkan peluang bertahan dari predator.
‘Ini bukan keterbatasan, tapi fokus evolusi adalah menghasilkan individu yang mampu bertahan dan beradaptasi di lingkungan, bukan kompetisi mencapai kesempurnaan,” tuturnya.





