Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli
Kesehatan

BRIN Kembangkan Paduan Titanium untuk Implan Medis

Tim Prohealth

3 menit baca

BRIN Kembangkan Paduan Titanium untuk Implan Medis

Pusat Riset Metalurgi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan paduan titanium untuk aplikasi implan medis, khususnya hip joint atau sendi panggul buatan. Riset ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan nasional dalam memproduksi material implan secara mandiri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Peneliti Ahli Madya dari Kelompok Riset Paduan Logam Ringan, Pusat Riset Metalurgi BRIN, Galih Senopati, menjelaskan pengembangan material implan berbasis titanium dilatarbelakangi oleh tingginya ketergantungan Indonesia terhadap produk implan dari luar negeri. Menurutnya, sekitar 90 persen kebutuhan implan nasional masih dipenuhi melalui impor, sedangkan industri dalam negeri baru berkontribusi sekitar 10 persen.

“Berangkat dari kondisi tersebut, kami optimistis dapat mengembangkan material implan berbasis paduan titanium secara mandiri agar ke depan dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat,” ujarnya di Gedung 470 Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie Serpong, Selasa, 6 Oktober 2026.

Pengembangan paduan titanium untuk implan medis memiliki tantangan yang kompleks. Titanium dikenal memiliki potensi untuk aplikasi biomedis, tetapi proses pengolahannya memerlukan penanganan khusus karena material ini mudah teroksidasi. Oleh sebab itu, pengembangan material membutuhkan penguasaan teknologi, kajian mendalam, serta diskusi dan pertukaran pengetahuan dengan para pakar, baik di dalam maupun luar negeri.

Selain pengujian sifat mekanik, material implan juga harus melalui serangkaian pengujian untuk memastikan keamanan dan kesesuaiannya ketika digunakan di dalam tubuh manusia. Pengujian tersebut mencakup uji in vitro untuk mengevaluasi respons sel terhadap material serta uji in vivo untuk menilai respons biologis pada organisme hidup.

Tahapan pengujian dilakukan secara bertahap sesuai persyaratan yang berlaku sebelum material dapat digunakan pada manusia dan dipasarkan. Proses ini menjadikan pengembangan material implan lebih panjang dibandingkan pengembangan material untuk aplikasi industri pada umumnya.

“Untuk material implan, kita harus memastikan bahwa material tersebut aman digunakan di dalam tubuh. Ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi, mulai dari pengujian komposisi kimia, sifat mekanik, biokompatibilitas, hingga pengujian in vitro dan in vivo,” Galih menjelaskan.

Pengembangan material implan berbasis titanium juga membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan sektor. Untuk itu, Pusat Riset Metalurgi BRIN bekerja sama dengan sejumlah pusat riset di lingkungan BRIN, termasuk Pusat Riset Biomedis, dalam melakukan pengujian biokompatibilitas dan mengevaluasi respons biologis terhadap material yang dikembangkan.

Kolaborasi juga dilakukan dengan dokter sebagai pengguna akhir yang memahami kebutuhan klinis, baik dari sisi desain maupun karakteristik material implan. Selain itu, BRIN juga melibatkan industri untuk memastikan material dan desain yang dikembangkan memungkinkan untuk diproduksi melalui proses manufaktur yang sesuai.

Menurut Galih, sinergi antara peneliti, tenaga medis, dan industri menjadi faktor penting untuk mendorong hasil riset menuju tahap pemanfaatan. Sejauh ini, BRIN telah meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan dan memproduksi paduan titanium secara mandiri serta mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal ilmiah bereputasi. Capaian ini menjadi modal untuk melanjutkan pengembangan material implan hingga berpeluang menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Ia mengatakan ke depan, pengembangan paduan titanium ini diharapkan dapat berlanjut hingga tahap pemanfaatan dan komersialisasi. Dukungan mitra industri implan, khususnya yang berada di Surabaya, menjadi salah satu peluang untuk mendorong proses hilirisasi hasil riset.

“Meskipun membutuhkan proses panjang dan pemenuhan berbagai persyaratan teknis serta regulasi, pengembangan material implan berbasis titanium dapat memberikan kontribusi bagi kemandirian industri kesehatan nasional,” ujarnya.