Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli
Uncategorized

Bukan Sekadar Film, Laut Bercerita Membuka Kembali Ingatan tentang Mereka yang Hilang

Ahmad Khudori

6 menit baca

Bukan Sekadar Film, Laut Bercerita Membuka Kembali Ingatan tentang Mereka yang Hilang

Film Laut Bercerita besutan sutradara Anggi Yovan Noah mendapat respons positif dari masyarakat. Film yang diadaptasi dari novel karya Leila Salikha Chudori itu akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026.

Film ini menjadi film panjang perdana bagi rumah produksi PT Layar Berkembang Senantiasa atau Pal 8 Pictures, yang berada di bawah naungan Tempo Media Group. Melalui Laut Bercerita, Pal 8 Pictures ingin menghadirkan film dengan cerita yang relevan dengan persoalan masyarakat, khususnya yang berkaitan isu sosial, politik, budaya, dan sejarah.

Dalam film berdurasi 135 menit itu, Artis Reza Rahadian berperan sebagai tokoh utama, Biru Laut. Reza beradu akting dengan Arswendy Bening Swara dan Christine Hakim yang memerankan kedua orang tuanya. Sementara itu, Yunita Siregar berperan sebagai adik Laut, Asmara Jati.

Sejumlah artis ternama lainnya turut membintangi film ini. Dian Sastrowardoyo berperan sebagai Kinan, Yoga Pratama sebagai Bram, Ben Nugroho sebagai Alex. ⁠Kevin Julio sebagai Daniel, ⁠Dewa Dayana sebagai Sunu, Nagra Kautsar sebagai Naratama, Natalius Chendana sebagai Julius, dan Afrian Arisandi sebagai Gala. Mereka merupakan bagian dari kelompok Winatra. Selain itu, ada juga Ibnu Jamil sebagai wartawan Majalah Tera, sedangkan Eva Celia memainkan penan Anjani, kekasih dari Laut.

Sosok Laut menjadi figur sentral dalam cerita yang berlatar situasi Indonesia pada era 1990-an yang penuh gejolak. Ia menyuarakan keresahan dan melakukan perlawanan terhadap penguasa. Apalagi, film ini juga dibangun melalui laporan dan tulisan jurnalistik yang menggambarkan penculikan hingga kematian para aktivis mahasiswa pada masa itu.

Setelah bergabung dengan organisasi Winatra, Laut menemukan kesamaan visi dengan Kinan, Bram, Sunu, Daniel, Naratama, Anjani, Gala dalam membela masyarakat di berbagai daerah, termasuk Yogyakarta. Bersama para sahabatnya, ia menyampaikan kritik lewat tulisan dan gerakan terhadap penguasa hingga akhirnya menjadi buronan. Akibat aktivitas itu, Laut bersama sahabatnya harus berpindah-pindah tempat untuk menyelamatkan diri, mulai dari Lampung,, Padang, hingga Batam.

Namun, setelah lama melarikan diri, keberadaan Laut tetap terlacak hingga akhirnya ia diculik. Dalam penahanan, Laut mengalami berbagai penyiksaan hingga tewas. Hingga akhir cerita, tidak ada yang mengetahui keberadaan jasadnya. Sementara itu, dua rekannya, Alex dan Daniel dibebaskan.

Kehilangan Laut membuat keluarga dan orang-orang terdekatnya harus menghadapi ketidakpastian. Mereka terus berusaha mencari jawaban sekaligus menjaga harapan agar satu hari nanti Laut akan kembali.

Aktor Reza Rahadian mengatakan film Laut Bercerita memiliki peran penting dalam memelihara harapan, keberanian, kehilangan, serta suara kritis generasi muda. Ia meyakini selama anak-anak muda terus bersuara mulai dari isu lingkungan, politik, dan keadilan, harapan untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik akan tetap ada.

Saat memainkan Laut, Reza menyatakan punya 3 adegan yang paling berkesan. Pertama ketika adegan di penjara, adegan tenggelam di kedalaman 15 meter, serta adegan di dalam mobil bersama Eva Celia.

“Adegan dipenjara jadi salah satu adegan paling emosional bagi saya. Saya merasa ada keterikatan emosional dengan karakter Laut,” ujarnya saat tayangan perdana pada 21 Oktober 2026, di XXI Epicentrum.

Reza menambahkan, ia tidak akan pernah benar-benar berpisah dari karakter Laut. ia akan terus menyimpan dan memelihara napas serta percikan karakter di dalam hatinya, terutama nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang dipegang Laut. “Saya rasa Laut ada di dalam kita semua. Nafasnya laut ada di dalam kita semua,” katanya.

Sutradara Laut Bercerita, Anggi Yoban Noen, mengungkapkan proyek film ini telah diinisiasi jauh sebelum pandemi, sebelum akhirnya dapat diwujudkan. Dalam menyusun cerita, Anggi merasa terbantu berkat kolaborasi dengan Leila Salikha Chudori, yang memberikan ketebalan narasi serta suasana 1990-an.

Keterbatasan teknologi pada masa itu juga terlihat dalam bahasa visual film. Menurut Anggi, kondisi ini menjadi bagian penting dalam menggambarkan kerinduan yang dialami para tokoh terhadap anggota yang hilang.

Bagi Anggi, film ini menghadirkan gambaran tentang kerinduan yang pada masa kini kerap terasa lebih mudah dijembatani oleh teknologi. Ketika merindukan anggota keluarga, seseorang kini dapat dengan mudah melakukan panggilan video lewat aplikasi pesan singkat.

Namun, pada era 90-an, alat komunikasi masih sangat terbatas. Misalnya pesan kerinduan harus disampaikan lebih dulu melalui operator penyeranta atau pager sebelum akhirnya diterima oleh orang yang dituju.

Menurut Anggi, keterbatasan teknologi memperkuat jalan cerita, terutama dalam menggambarkan kerinduan keluarga terhadap Laut serta perasaan kehilangan yang dialami para tokoh. “Kerinduan pada orang yang hilang dan diculik itu ada terus-menerus. Tidak cuma pada keluarga aktivis, tapi juga pada setiap keluarga. Kerinduan itu tidak mudah hilang,” katanya.

Anggi menjelaskan, film Laut Bercerita tetap relevan dengan situasi saat ini. Menurutnya, ruh utama film ini adalah spirit anak muda yang berani menunjukkan cinta pada tanah air dengan cara dan bahasa kreatf mereka, meskipun menghadapi risiko dan ditentang oleh penguasa.

Anggi menilai sejarah Indonesia selalu digerakkan oleh kaum muda dari masa ke masa. Karena itu, ia berharap film Laut Bercerita dapat memelihara semangat kritis anak muda agar tidak pernah padam di tengah ketidakadilan.

Sementara itu, Dian Sastrowardoyo mengatakan perannya sebagai Kinan mengingatkan pada masa kuliah. Saat masih menjadi mahasiswa pada awal 2000-an, Dian pernah mengikuti kegiatan bersama teman-teman mahasiswa yang menyuarakan keresahan mereka.

“Saya jatuh cinta dengan karakter Kinan, ia mengingatkan saya pada kakak kelas idola yang biasa ditemukan di kampus. Kakak kelas yang inspiratif, berprestasi, sangat banyak baca buku,” katanya.

Dian menambahkan Kinan merupakan sosok pemimpin perempuan dalam lingkaran gerakan yang memiliki prinsip kuat dan cara berpikir yang matang, ia juga mampu membangun kesadaran para anggotanya dengan cerdik. Salah satunya dengan mewajibkan anggota Winatra membaca buku Tetralogi Pulau Buru karya oleh Pramoedya Ananta Toer agar mereka lebih peka terhadap ketidakadilan.

“Kinan adalah karakter idola saya. Dia dihidupkan lewat gerak tubuh dan juga cara berbicara yang akhirnya hidup di film ini,” ujarnya.

Penulis Skenario Leila Salikha Chudori menekankan pentingnya kehadiran karakter perempuan dalam film Laut Bercerita. “Selain karakter Kinan, ada Ratih Anjani, Asmara Jati dan Ibu Laut. Mereka sebagai sosok yang kuat dan melakukan bentuk-bentuk perjuangan mereka secara berbeda,” katanya.

Menurut Leila, para tokoh perempuan dalam film ini ditempatkan sebagai pilar kekuatan utama dan rekan seperjuangan yang setara. Mereka bukan sekadar pendamping, melainkan juga menjadi kekuatan bagi para pejuang laki-laki dalam memperjuangkan tujuan bersama.

Artis Yunita Siregar mengatakan perannya sebagai Asmara Jati, Adik sekaligus orang terdekat Laut, menuntut dirinya untuk menggambarkan sosok yang berusaha tetap tegar. Melalui karakter ini, Yunita mewakili ruang perjuangan keluarga korban yang menempuh jalur advokasi dan pengadilan untuk mencari kebenaran di tengah ketidakpastian mengenai nasib Laut dan para sahabatnya.

“Asmara Jati sebagai adik Laut menjaga perjuangan dan semangat keluarga. Itu adalah bentuk-bentuk menyuarakan perubahan dengan cara yang berbeda,” ujarnya.

Direktur Pal 8 Pictures, Budi Setyarso, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam produksi film ini, mulai dari sutradara Yosep Anggi, penulis skenario, hingga seluruh pemain. Budi mengatakan tujuan utama film ini diluncurkan adalah menciptakan ruang diskusi publik yang bermakna.

Film Laut Bercerita menjadi pengingat di balik peristiwa penting perjalanan bangsa, selalu ada keluarga dan manusia nyata yang terlibat. Kisah mereka bukan hanya milik keluarga korban, melainkan juga bagian dari sejarah dan ingatan bersama masyarakat Indonesia.

Sebelumnya, Laut Bercerita juga telah diperkenalkan kepada penonton internasional melalui Busan International Film Festival 2026. Pencapaian ini menjadi salah satu langkah penting dalam membawa kisah dari novel ke layar lebar melalui medium sinema.

“Pal 8 Pictures percaya film ini bisa menjadi medium untuk menyuarakan kebebasan berekspresi. Kami berharap melalui Laut Bercerita, kisah ini bisa memberikan penghormatan terhadap perjuangan dan resiliensi kita semua saat ini.” katanya.