Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli
Perempuan dan Anak

Merajut Kepercayaan, Membuka Jalan Imunisasi Anak di Aceh

Tim Prohealth

5 menit baca

Merajut Kepercayaan, Membuka Jalan Imunisasi Anak di Aceh

Di bawah terik matahari yang menyengat, Marlina mengetuk pintu rumah ke rumah lainnya Di tengah jalan-jalan kecil berliku di antara hamparan sawah Aceh, sambil menggenggam erat setumpuk catatak kesehatan di tangannya.

Berkas itu menyimpan nama anak yang beberapa di antaranya belum pernah menerima satu pun vaksin (yang juga dikenal sebagai anak zero-dose atau belum pernah diimunisasi). Sementara yang lainnya melewatkan terlalu banyak jadwal imunisasi.

Selama 15 tahun terakhir, ini adalah rutinitas yang dijalani Marlina sebagai koordinator imunisasi di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Padang Tiji, Kabupaten Pidie, yang dimuat di laman UNICEF.

“Kunjungan rumah ini adalah apa yang kami sebut dengan sweeping imunisasi. Kami mencari anak-anak yang putus imunisasi atau yang berstatus ‘zero-dose’ dalam jadwal imunisasi mereka,” kata Marlina. Meski gurat lelah tampak di wajahnya, ia terus melangkah demi memastikan setiap anak mendapat kesempatan untuk tumbuh sehat dan terlindungi.

Marlina akhirnya tiba di depan pintu rumah Dahniar. Sebagai seorang ibu muda dengan satu anak, Dahniar adalah sosok yang tidak asing bagi Marlina. Meski ia sendiri merupakan seorang kader kesehatan, Dahniar termasuk salah satu ibu yang ragu untuk mengimunisasi anaknya karena takut akan efek samping yang kerap muncul.

“Saya takut anak saya demam tinggi, apalagi tidak ada orang lain di rumah. Cuma ada saya dan anak saya,” kata Dahniar saat memikirkan tentang rencana pemberian imunisasi putra kecilnya, Shaquel, yang berusia sembilan bulan.

Ketakutan ini diperparah oleh pengaruh orang-orang di sekitarnya. “Banyak orang bilang kepada saya, lebih baik anak tidak usah diimunisasi sama sekali, demi menghindari demam,” katanya.

Pengalaman Dahniar mencerminkan masalah yang lebih luas: Pidie merupakan salah satu kabupaten dengan angka imunisasi terendah di Aceh, provinsi yang juga memiliki tingkat cakupan terendah di Indonesia.

Pada tahun 2024, 36,7 persen anak di Aceh yang mendapatkan imunisasi lengkap, dibandingkan dengan 87,7 persen secara nasional. Sementara di Kabupaten Pidie, baru 5 persen anak di bawah usia 1 tahun yang telah diimunisasi (Kementerian Kesehatan).

Selain itu, Pidie memiliki salah satu angka tertinggi di provinsi untuk jumlah anak yang belum pernah menerima satu dosis vaksin pun, dengan sekitar 6.900 anak diklasifikasikan sebagai zero-dose (Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie).

Setiap anak yang terlewat dari imunisasi menyisakan celah dalam perlindungan bersama. Ketika celah itu semakin besar, penyakit yang selama ini berhasil ditekan dapat menemukan jalan untuk kembali. Warga Pidie pernah merasakan sendiri kenyataan tersebut.

Pada 2022, polio kembali muncul setelah bertahun-tahun. Wabah itu menjadi pengingat yang menyakitkan bahwa ketika imunisasi tidak menjangkau semua anak, dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh komunitas.

Untuk memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan tepat waktu melalui imunisasi, UNICEF bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan para mitra—termasuk Gavi, the Vaccine Alliance—melalui inisiatif MEUSEURAYA+.

Berakar kuat pada budaya masyarakat Aceh, imunisasi dipandang sebagai tanggung jawab yang dipikul bersama oleh keluarga, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah. Melalui pelatihan, pendampingan, serta pemantauan rutin dari tenaga kesehatan, inisiatif ini bertujuan memperluas jangkauan imunisasi dan memastikan lebih banyak anak memperoleh perlindungan yang mereka butuhkan.

Salah satu fondasi penting MEUSEURAYA+ adalah penguatan kompetensi komunikasi antarpribadi tenaga kesehatan dengan warga. Interaksi bersama orang tua secara empatik dan transparan sangat efektif membangun kepercayaan guna mengubah kekhawatiran menjadi optimisme.

Hal ini menjadi kunci utama dalam memitigasi keraguan terhadap vaksin serta sebaran hoaks, yang selama ini menjadi hambatan bagi pihak keluarga dalam memberikan imunisasi bagi buah hati mereka.

Marlina adalah salah satu tenaga kesehatan yang telah dilatih sebagai bagian dari inisiatif MEUSEURAYA+. Ia termasuk di antara 75 tenaga kesehatan lainnya yang mendapatkan pelatihan di bawah program ini. Hasilnya, berkomunikasi dengan orang tua kini menjadi jauh lebih mudah baginya.

Sebelumnya, ia cenderung cepat menghakimi orang tua yang ragu atau menolak mengimunisasi anak mereka. Sekarang, ia mampu mendengarkan dengan penuh empati serta pengertian, sekaligus memilah kata-kata dengan cermat agar pesannya tersampaikan dengan lebih jelas.

“Saya menggunakan kata-kata yang jauh lebih sederhana sekarang… Saya menghindari istilah medis yang mungkin tidak sepenuhnya dipahami atau dimengerti oleh masyarakat,” katanya.

Hasilnya? Orang tua menjadi lebih terbuka karena komunikasi kini berjalan dua arah dan saling memahami. “Masyarakat menjadi lebih mau mendengarkan, dan mereka benar-benar paham apa yang kami sampaikan,” kata Marlina.

Dampak positif tersebut tercermin langsung dari keputusan Dahniar. Pendekatan yang diterapkan oleh Marlina tidak hanya mengubah cara Dahniar memahami imunisasi, tetapi juga mengubah apa yang ia rasakan tentang hal tersebut.

Selama ini, pengetahuannya tentang efek samping pasca-imunisasi hanya bersumber dari rumor, yang kemudian menumbuhkan benih-benih ketakutan terhadap proses medis yang belum sepenuhnya ia pahami.

Dahniar merasa lebih tenang saat Marlina memberikan edukasi secara persuasif bahwa potensi efek samping tersebut dapat dicegah. Kini, pemikirannya tentang imunisasi telah berubah total.

“Imunisasi ibarat ‘payung’ yang melindungi anak saat hujan turun. Begitu pula imunisasi, ia menjaga kita agar terhindar dari penyakit,” katanya, sambil mendekap Shaquel yang perlahan tertidur.

Selain pelatihan, pemantauan pasca-imunisasi juga menjadi bagian penting dalam menumbuhkan rasa percaya keluarga. Arif Irwandi, ketua Tim Imunisasi Kabupaten Pidie, menjelaskan bahwa para tenaga kesehatan diharapkan untuk memberikan perhatian penuh kepada anak-anak setelah mendapatkan vaksinasi serta merespons setiap kekhawatiran orang tua dengan penuh kepedulian dan kejelasan.

“Kami menjelaskan bahwa reaksi ringan [Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI] merupakan tanda bahwa imunisasi tersebut sedang bekerja. Reaksi ini menunjukkan bahwa tubuh anak berhasil membangun antigen dan antibodi—komponen dasar pembentuk kekebalan tubuh—agar mereka tetap terlindungi,” ujarnya.

Sejak inisiatif ini diluncurkan pada tahun 2025, cakupan imunisasi di Kabupaten Pidie telah meningkat dua kali lipat, dari 5 persen pada tahun 2024 menjadi 10 persen pada tahun 2025 (sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie).

“Melalui MEUSEURAYA+, para tenaga kesehatan memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dapat mereka terapkan sehari-hari. Hal ini membawa peningkatan layanan imunisasi yang terukur di beberapa puskesmas dan desa yang berpartisipasi,” kata Irwandi.

MEUSEURAYA+ merupakan bagian dari upaya yang lebih besar. UNICEF mendukung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk menjangkau anak-anak zero-dose di sepuluh wilayah prioritas di seluruh negeri, dengan target menurunkan jumlah anak yang belum diimunisasi sebesar 25 persen.

Kini, Shaquel yang berusia sembilan bulan menjadi lebih kuat terhadap penyakit. Melihat perubahan positif pada putranya sendiri, Dahniar kini menjadi pendukung kuat gerakan imunisasi anak. Ia juga menjadi jauh lebih aktif sebagai kader kesehatan, membantu banyak keluarga lainnya memahami pentingnya memberikan imunisasi kepada anak secara tepat waktu.

“Vaksin hadir untuk membantu anak-anak kita tumbuh sehat, bukan membuat mereka sakit,” kata Dahniar. “Saya merasa vaksin ini benar-benar telah membantu anak saya menjadi lebih sehat, lebih ceria, dan lebih siap untuk menghadapi masa depannya.”