Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli
Lingkungan

Pentingnya Kolaborasi untuk Membangun Narasi Tanding soal Papua

Admin

2 menit baca

Pentingnya Kolaborasi untuk Membangun Narasi Tanding soal Papua

Kolaborasi media dan masyarakat sipil memegang peran penting dalam membangun narasi tanding tentang Papua. Jurnalis Tempo, Agoeng Wijaya, mengatakan kolaborasi ini penting mengingat luasnya wilayah Papua serta masih terbatasnya pemahaman media di luar Papua terhadap realitas di lapangan.

Ia mengatakan saat ini sedang menghadapi kolaborasi besar. “Sehingga kita sebagai bagian dari masyarakat sipil, entah itu organisasi atau profesi pers, perlu berkolaborasi,” kata Agoeng.

Ia menekankan bahwa membangun narasi tanding bukan hanya menjadi tanggung jawab media. Tapi juga masyarakat sipil yang mendampingi komunitas di Papua. Termasuk memperkuat kerja sama antara media nasional dan media lokal Papua.

Agoeng mengatakan narasi tanding menjadi penting karena selama ini pemberitaan tentang Papua, terutama perihal lingkungan, masih minim dan cenderung didominasi oleh sudut pandang pemerintah.

Analisis awal Greenpeace Indonesia melalui pemantauan media sepanjang 2025 mencatat dari sekitar 192 ribu pemberitaan isu lingkungan. Dari jumlah itu, hanya 1.504 yang membahas Papua. Isu yang muncul mencakup ekstraksi sumber daya alam, kebijakan, dan sampah.

Budiarti Putri dari Greenpeace Indonesia mengatakan ada narasi dominan yang dibangun dan dilanggengkan oleh pemerintah Indonesia. “Ketika bicara tentang Papua, framing-nya seringkali berkutat pada isu keamanan dan konflik,” ujar Budiarti Putri.

Ia juga menambahkan, pemberitaan perihal Proyek Strategis Nasional (PSN) masih terbatas dan didominasi oleh sumber pemerintah. Dalam banyak kasus, pendekatan ini tidak hanya menyempitkan perspektif, tapi juga secara tidak langsung memisahkan tanah dari manusia yang hidup di atasnya.

Ia menyatakan Papua kerap dilihat sebagai ruang sumber daya atau wilayah konflik, tanpa menghadirkan relasi mendalam antara masyarakat adat dan ruang hidup mereka. Padahal, suara masyarakat terkena dampak, terutama orang Papua, masih jarang muncul.

Yokbeth Fele dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat menyoroti narasi yang berkembang selama ini lebih banyak berasal dari sudut pandang orang ketiga. “Kebanyakan kita membiarkan narasi itu berkembang dari narasi orang ketiga,” ujarnya.

Upaya menghadirkan sudut pandang orang pertama ini juga dilakukan melalui karya seni. Seniman bunyi dan akademisi asal Papua, Septina Layan, mengolah cerita mama-mama Papua menjadi karya tutur dan lagu.
Salah satunya berjudul Ihin Sakil atau Ratapan Cendrawasih, yang ia tulis bersama Mama Katarina Ndiken dan Mama Beata Yolmen pada 2014.

“Kami menulis dengan satu refleksi panjang. Saya ingat masa kecil saya di kampung Bulbuk, bermain di hutan. Ketika saya kembali, hutan itu sudah hampir tidak seperti dulu,” tutur Septina.

Pada 2025, ia juga merilis single berjudul Papua adalah Rumah, yang kembali menegaskan keterikatan antara manusia dan tanahnya.

Diskusi perihal ini berlangsung dalam lokakarya bertajuk “Membincangkan Gagasan, Merajut Gerakan: Bagaimana Membangun Narasi Tanding dan Menjajaki Kolaborasi untuk Mengangkat Isu Papua.” Diskusi ini menjadi bagian dari rangkaian Pesta Media AJI Jakarta 2026 yang diselenggarakan oleh AJI Jakarta dengan dukungan Greenpeace Indonesia dan PUSAKA pada Sabtu-Minggu, 11-12 April 2026.