Remaja perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami defisiensi besi (iron deficiency). Selain kebutuhan zat besi meningkat seiring pertumbuhan, menstruasi membuat remaja perempuan kehilangan zat besi secara berkala sehingga risikonya semakin besar, bahkan ketika kadar hemoglobin (Hb) masih berada dalam batas normal.
Murti Andriastuti, dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan defisiensi besi pada remaja perempuan perlu mendapat perhatian serius karena kondisi itu dapat berlangsung tanpa gejala yang mudah dikenali secara kasat mata. Berdasarkan data penelitian terbaru IDAI yang dipaparkannya, kata Murti, defisiensi besi tanpa anemia pada kelompok remaja berada di kisaran 15-20%.
“Yang berisiko tinggi itu remaja putri. Jadi, kita idealnya kita fokuskan pada 1000 hari pertama kehidupan,” kata Murti dalam seminar media dengan topik “Update Defisiensi Besi pada Anak” yang dilaksanakan daring pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Menurut Murti, kondisi menjadi lebih sulit dideteksi karena anak yang mengalami defisiensi besi umumnya belum tentu menunjukkan tanda anemia. Pada tahap awal, kadar hemoglobin masih dapat normal, sementara cadangan besi tubuh sudah mulai menurun. “Walaupun Hb masih normal, bisa saja dia sudah mengalami defisiensi besi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, defisiensi besi tidak terjadi secara tiba-tiba hingga anak kemudian terlihat pucat. Kondisi ini merupakan proses bertahap, dimulai dari berkurangnya cadangan besi hingga akhirnya memengaruhi kadar besi dalam sirkulasi dan menurunkan hemoglobin (Hb). Masalahnya, pada fase awal anak masih dapat terlihat sehat dan aktif yang kemudian membuat defisiensi besi mudah terlewat, baik oleh orang tua maupun tenaga kesehatan, terutama jika pemeriksaan hanya mengandalkan tanda-tanda klinis.
Murti mengatakan kebutuhan besi pada remaja meningkat karena adanya percepatan pertumbuhan. Pada remaja perempuan, kebutuhan itu bertambah seiring adanya menstruasi yang menyebabkan kehilangan darah setiap bulan.
“Pada remaja putri yang nantinya menjadi calon ibu di masa depan, selain dia juga mengalami percepatan tumbuh, juga ada faktor menstruasi,” ujar Murti.
Karena itu, durasi dan kuantitas darah selama periode menstruasi perlu menjadi bagian dari penilaian ketika menemukan remaja dengan risiko defisiensi besi. Menstruasi yang berlangsung lebih lama atau dengan jumlah darah lebih banyak dari normal dapat meningkatkan kehilangan zat besi dan pada akhirnya menyebabkan anemia defisiensi besi.
Selain menstruasi, pola makan juga menjadi faktor penting. Murti menyebut sebagian besar kasus defisiensi besi berkaitan dengan asupan nutrisi, sementara sumber zat besi yang baik seperti daging merah dan pangan hewani lainnya tidak selalu mudah diakses seluruh keluarga.
Persoalan itu menunjukkan bahwa pencegahan defisiensi besi tidak cukup hanya dengan pendekatan medis. Ketersediaan pangan bergizi, kemampuan ekonomi keluarga, edukasi mengenai pola makan, hingga kepatuhan mengonsumsi suplementasi menjadi bagian yang saling berkaitan.
Di sisi lain, defisiensi besi pada remaja perempuan tidak hanya perlu dilihat dari kondisi mereka saat ini. Kelompok anak dan remaja perempuan menjadi lebih rentan sehingga status besi sebelum kehamilan dapat menjadi bagian penting dari upaya memutus mata rantai defisiensi besi sejak dini.
“Kita harus pastikan dia cukup besinya,” ujar Murti.
Upaya pencegahan kekurangan besi pun perlu dimulai sebelum seorang perempuan memasuki kehamilan. Sebab, defisiensi besi pada ibu hamil juga dapat berdampak terhadap kondisi bayi dan proses persalinan. Murti pun mendorong upaya skrining sebagai bagian penting dalam mendeteksi defisiensi besi. Untuk remaja perempuan, pemeriksaan direkomendasikan setelah satu tahun sejak menstruasi pertama atau maksimal pada usia 14 tahun.
Menurut Murti, pendekatan ini penting karena mengandalkan pemeriksaan hemoglobin saja berisiko melewatkan anak yang sudah mengalami defisiensi besi tetapi belum mengalami anemia. Pemeriksaan feritin dapat digunakan untuk melihat cadangan besi tubuh. Feritin merupakan protein dalam tubuh yang berfungsi untuk menyimpan dan melepaskan zat besi ketika dibutuhkan oleh tubuh.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan perubahan paradigma dalam penanganan defisiensi besi. Fokus tidak lagi semata-mata mengobati anak setelah anemia terjadi, tetapi menemukan dan mencegah kekurangan besi sedini mungkin.
Murti mengingatkan dampak defisiensi besi tidak berhenti ketika kadar hemoglobin berhasil dikembalikan ke normal. Sejumlah dampak terhadap perkembangan otak, terutama jika defisiensi terjadi pada masa awal kehidupan, dapat menetap untuk jangka panjang.
“Dampak dari defisiensi besi yang sudah terjadi itu terutama pada perkembangan otaknya itu irreversible, tidak dapat dipulihkan dalam kondisi semula,” kata Murti.
Karena itu, pencegahan perlu dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi anemia. Pada remaja perempuan, langkah pencegahan antara lain dengan memperhatikan pola makan, riwayat menstruasi, tanda-tanda gangguan konsentrasi atau perubahan perilaku, serta melakukan pemeriksaan ketika terdapat faktor risiko.
Keterlibatan pemerintah dan pemangku kepentingan lain juga tak kalah penting. Upaya pencegahan dan deteksi dini membutuhkan akses pemeriksaan laboratorium serta ketersediaan suplementasi besi yang dapat dijangkau masyarakat. Strategi ini, ucapnya, harus mempertimbangkan kondisi Indonesia yang beragam. Pendekatan yang ideal secara medis perlu disesuaikan dengan kemampuan layanan kesehatan dan kondisi ekonomi masyarakat di berbagai daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menekankan defisiensi besi pada anak tidak dapat hanya dinilai dari ada atau tidaknya anemia berdasarkan kadar hemoglobin (Hb). Namun, menurut Piprim, pemeriksaan menyeluruh terhadap status besi pada anak diperlukan untuk mendeteksi defisiensi sedini mungkin.
“Defisiensi besi itu bukan sekadar anemia. Bahkan sebelum Hb turun, defisiensi besi bisa terjadi,” katanya dalam seminar daring yang dimoderatori oleh dokter spesialis anak, Ade Djanwardi Pasaribu itu.
Piprim menekankan kekurangan zat besi pada anak dapat berdampak pada berbagai aspek tumbuh kembang. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif, tetapi juga perilaku, konsentrasi, aktivitas, serta kualitas tumbuh kembang anak.
“Aktivitas dan kualitas tumbuh kembang akan sangat terdampak. Kita perlu juga menyoroti kelompok usia yang sangat rentan ya. Misalnya, pada bayi prematur atau bayi dengan lahir berat badan rendah. Termasuk anak dengan pola makan rendah sumber zat besi,” kata dia.
Selain itu, Piprim juga mencatat adanya peningkatan risiko pada anak dengan penyakit kronis, gangguan penyerapan nutrisi (malabsorpsi), atau kehilangan darah berulang. Khusus pada remaja perempuan, menstruasi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan kebutuhan zat besi. Piprim juga menekankan pentingnya pencegahan melalui pemenuhan nutrisi sejak bayi. Menurutnya, pemenuhan zat besi pada anak perlu menjadi perhatian, terutama melalui konsumsi pangan hewani.
“Nutrisi dari hati ayam yang paling murah atau terjangkau. Atau bisa daging merah, hati sapi, hati bebek. Sumber nutrisi dari hewani ini tentu lebih utama untuk diberikan pada anak anak,” ujar Piprim.





