Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli
Kesehatan

Film “Di Balik Ilusi Tembakau” Bongkar Dampak Rokok hingga Ancaman pada Anak Muda

Prohealth

5 menit baca

Film “Di Balik Ilusi Tembakau” Bongkar Dampak Rokok hingga Ancaman pada Anak Muda

Diskusi dan Nonton Bareng (Nobar) film “Di Balik Ilusi Tembakau” menjadi salah satu kegiatan penting di Festival Media Selat Malaka 2026 Aliansi Jurnalis Independen (AJI), di Ruang Rapat TA 9.3, Lantai 9 Gedung Tower A Politeknik Negeri Batam, Senin 21 September 2026. Film ini menunjukan industri rokok tidak hanya menjual produk tembakau, tetapi juga membangun “ilusi” melalui iklan, kemasan, dan berbagai strategi pemasaran.

Film garapan AJI Jakarta itu disutradarai Irvan Imamsyah dengan naskah Ambar Arum. Film mengangkat berbagai persoalan di balik industri rokok, mulai dari risiko kesehatan, beban ekonomi keluarga, meningkatnya jumlah perokok anak, kondisi petani tembakau, strategi pemasaran hingga kebijakan pemerintah.

Novita Sari Simamora dari AJI Jakarta mengatakan film tersebut dibuat untuk membongkar berbagai risiko kesehatan sekaligus menunjukkan strategi industri rokok dalam membentuk persepsi masyarakat.

Ia menyoroti penggunaan warna, gambar buah-buahan, serta berbagai elemen visual pada kemasan rokok yang dinilai dapat membentuk persepsi tertentu terhadap produk tembakau, terutama di kalangan anak-anak dan perempuan.

“Tipu daya industri rokok melalui visual kemasan rokok dengan warna-warni dan buah-buahan menjadi berbahaya karena berdampak pada keinginan anak-anak maupun perempuan untuk merokok,” kata Novita.

Menurut dia, edukasi mengenai rokok penting dilakukan agar generasi muda tidak menjadi korban strategi pemasaran industri.

“Kami tidak ingin anak-anak muda menjadi korban ilusi pabrik rokok di Indonesia. Jangan sampai anak-anak kita, keluarga kita menjadi korban dari asap rokok,” ujarnya.

*Nikotin dan Risiko Kesehatan*

Epidemiolog Ahli Muda Dinas Kesehatan Kota Batam, dr Mohammad Solihin, menjelaskan istilah “ilusi” dalam film tersebut berkaitan dengan cara industri membangun persepsi konsumen terhadap rokok.

Menurut Solihin, iklan dan visual produk kerap menggambarkan rokok sebagai sesuatu yang menyegarkan, maskulin, atau membuat seseorang terlihat lebih berani. Persepsi tersebut, kata dia, berkaitan dengan efek nikotin terhadap otak.

Nikotin dapat merangsang sistem penghargaan di otak, termasuk pelepasan dopamin, yang kemudian dapat memperkuat keinginan seseorang untuk kembali mengkonsumsi rokok.

“Di dalam rokok itu sendiri, yang membuat efek di dalam tubuh kita adalah yang berhubungan dengan nikotin. Nikotin ini akan memicu hormon yang ada dalam otak kita,” katanya.

Solihin mengatakan persoalan rokok tidak berhenti pada kecanduan. Dampak kesehatan dapat muncul dalam jangka panjang dan berpengaruh terhadap produktivitas serta kualitas hidup seseorang.

Ia menyebut sejumlah penyakit yang berkaitan dengan rokok, antara lain penyakit jantung dan stroke, yang juga dapat menimbulkan beban biaya pengobatan.

“Dampak yang dimunculkan itu mungkin lima sampai 10 tahun kemudian. Jadi akan memunculkan dampak terhadap kesehatan orang tersebut dan apabila ini menjadi penyakit bagi mereka, ini akan menurunkan produktivitas dan juga kualitas hidup,” ujarnya.

Menurut Solihin, persoalan menjadi semakin serius ketika kebiasaan merokok dimulai sejak usia muda. Ia menyoroti kelompok usia 10 hingga 18 tahun yang masih berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan.

“Kalau seandainya ini dibiarkan terus merokok di masa muda, 10 tahun, 15 tahun ke depan, artinya nanti umur 25 sampai 30 mungkin akan terganggu oleh penyakit dampak dari merokok,” katanya.

Ia mengingatkan kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap produktivitas generasi muda ketika memasuki usia kerja.

“Ini akan menurunkan produktivitas mereka di masa depan. Itu yang kita khawatirkan,” ujarnya.

Diskusi juga berkembang pada persoalan yang lebih luas di balik industri tembakau, mulai dari tata niaga, kondisi petani, strategi pemasaran hingga dampaknya terhadap masyarakat yang tidak merokok.

Randi, mahasiswa Politeknik Negeri Batam, mengatakan pemutaran film di lingkungan kampus menjadi relevan karena budaya merokok masih terlihat di kalangan mahasiswa.

Menurutnya, film tersebut tidak semata-mata mengajak masyarakat berhenti merokok, tetapi membuka perspektif mengenai persoalan yang berada di balik industri tembakau.

“Seru ketika kita hadir di kampus-kampus yang banyak perokoknya, cewek dan cowok. Sebetulnya kita tidak melarang, tapi ingin kasih tahu adanya fenomena rokok dan industri tembakau,” katanya.

Ia menilai masyarakat perlu mengetahui berbagai persoalan di balik produk rokok, termasuk kondisi petani tembakau.

“Merokok memang pilihan. Tapi sehat juga pilihan. Dan yang akan lebih sehat lagi kalau kita tahu misalnya bahwa ada tata niaga yang buruk dan ada petani yang dirugikan,” ujarnya.

Peserta lainnya, Ibnu Rasyid, mengaku sebelumnya melihat persoalan rokok sebagai sesuatu yang biasa karena tidak ada anggota keluarganya yang merokok.

Namun setelah menyaksikan film tersebut, ia melihat dampak industri rokok jauh lebih luas daripada persoalan perokok aktif.

“Selama ini saya normalisasi saja soal merokok meski tidak merokok. Tapi setelah nonton film ini, baru sadar dampaknya besar. Ternyata panjang sekali runtutan masalahnya,” katanya.

Sebagai seorang multimedia engineer, Ibnu juga menyoroti strategi pemasaran melalui kemasan produk.

“Kalau dari packaging yang sangat menarik, aku lihat ini upaya marketing industri rokok itu ngaruh banget, sengaja begitu strateginya,” ujarnya.

Menurut dia, strategi pemasaran tersebut menjadi persoalan ketika menyentuh kelompok usia muda.

“Dari film itu makin kelihatan kalau semua orang bisa jadi korban rokok, tidak hanya perokok saja dan itu membahayakan generasi ke depan,” katanya.

Persoalan regulasi dan tata kelola industri tembakau juga turut disinggung dalam diskusi. John Billy PNS di KPU Bea dan Cukai Tipe B Batam menjelaskan bahwa pihaknya berada pada posisi sebagai pelaksana aturan yang telah ditetapkan pemerintah.

“Kami hanya menjalankan aturan yang berasal dari DPR,” katanya.

Ia melanjutkan, sebenarnya aturan sudah ada terkait misalnya kawasan bebas merokok, tetapi pengawasan dan penerapan aturan masih minim.

Sementara itu, Sunu Dyantoro, salah seorang peserta diskusi, merefleksikan pengalamannya berhenti merokok sejak 2010. Menurut dia, pembahasan mengenai rokok tidak cukup dilihat hanya dari sisi ekonomi.

Ia menilai persoalan rokok memiliki kompleksitas yang berkaitan dengan aspek ekonomi, politik, kesehatan, serta kebijakan.

Diskusi dan pemutaran film Di Balik Ilusi Tembakau menjadi salah satu rangkaian kegiatan Festival Media Selat Malaka 2026 yang mempertemukan jurnalis, mahasiswa, akademisi, pemerintah, serta masyarakat untuk membahas berbagai persoalan publik melalui perspektif media dan jurnalisme.

Festival Media Selat Malaka 2026 digelar AJI Indonesia bersama AJI Batam dan AJI Tanjungpinang pada 19–21 September 2026 di Kepulauan Riau dengan tema Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara.

Yogi Eka Sahputra (Batam)