Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli
Lingkungan

Kebiasaan Ikan Makan Plastik Picu Kepunahannya di Kali Surabaya

Prohealth

2 menit baca

Kebiasaan Ikan Makan Plastik Picu Kepunahannya di Kali Surabaya

Sensus Ikan 2026 yang dilakukan Ecoton menemukan 5 jenis ikan yang tertangkap mengandung mikroplastik dalam lambungnya. Plastik yang dilepaskan ke lingkungan tidak berhenti sebagai sampah yang terlihat.

Partikel plastik berukuran sangat kecil, mikroplastik, umumnya kurang dari 5 milimeter, dapat terbentuk dari pelapukan plastik, limbah cair industri daur ulang, pembakaran sampah, gesekan ban kendaraan, dan pelepasan serat pakaian sintetis saat dicuci.

Partikel ini dapat berpindah melalui udara, debu, limpasan dan hujan, air limbah, lalu masuk ke sungai. Di Kali Surabaya, jejak pencemaran itu kini ditemukan di tubuh ikan.

Sensus ikan yang dilakukan Ecoton pada September 2026 menemukan lima jenis ikan yang tertangkap semuanya mengandung mikroplastik setelah dibedah lambungnya. Keberadaan mikroplastik menjadi salah satu pemicu kepunahan ikan di Kali Surabaya.

“Mikroplastik masuk kategori senyawa pengganggu hormon, keberadaannya di air sungai akan berpengaruh pada terbentuknya kelamin ikan dan bila masuk kedalam organ tubuh akan mempengaruhi pertumbuhan ikan,” ungkap Prigi Arisandi, peneliti sungai Ecoton.

Ia menjelaskan keberadaan mikroplastik di perairan akan mempengaruhi terbentuknya kelamin ikan karena sistem pembuahan ikan atau bertemunya sperma dan sel telur terjadi di air atau diluar organ tubuh ikan.

Mikroplastik di perairan berperan sebagai senyawa pengganggu hormon dan mendorong terbentuknya kelamin betina karena ikan akan mengganggap mikroplastik sebagai hormon esterogen atau hormon yang membentuk terjadinya kelamin betina pada ikan.

Sensus ikan Ecoton 12–13 September 2026 berhasil menangkap 71 ekor ikan dari tujuh jenis yaitu: Jendil, Bader Merah, Bader Putih, Rengkik, Palung, Nilem/Muntho, dan Muraganting. Jendil menjadi jenis yang paling banyak ditemukan, 44 ekor atau sekitar 65 persen dari seluruh tangkapan sensus. Sebanyak 80 persen ikan yang tertangkap teridentifikasi berkelamin betina.

Mikroplastik adalah dampak dari buruknya pengelolaan lingkungan di Daerah Aliran Sungai Kali Surabaya. “Buruknya pengelolaan sampah dan pengawasan limbah industri memicu peningkatan pencemaran mikroplastik di air sungai,” ungkap Erica Damayanti, koordinator pendidikan lingkungan Ecoton.

Ia menjelaskan dalam laporan The New York Times edisi 28 September 2026 melalui artikel “An Epidemic Spreads Across Indonesia” menggambarkan mikroplastik sebagai persoalan yang meluas di Indonesia dan mengutip riset ECOTON. Artikel ini menguraikan bagaimana partikel dari pembakaran sampah, debu, pakaian sintetis, ban kendaraan, dan sumber lain dari limbah cair industri menjadi sumber pencemaran mikroplastik pada lingkungan.

Air hujan menjadi salah satu media pelarut mikroplastik dari lingkungan kedalam air sungai. Partikel yang berada di udara dapat tertangkap oleh tetesan hujan dan dibawa kembali larut dalam air sungai.

Veryl Hasan, peneliti Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, menyebut sedikitnya 12 spesies ikan Kali Surabaya telah dinyatakan punah dan kini tersisa 35 spesies. Artikel ini mengaitkan hilangnya spesies dengan kualitas air dan pencemaran limbah.

“Untuk pelestarian ikan di Kali Surabaya dibutuhkan langka serius pengelolaan sampah dan monitoring limbah cari di DAS Kali Surabaya,” ungkap Prigi Arisandi.

Ia mendorong masyarakat untuk menghentikan pembakaran sampah terbuka dan memperluas layanan pengangkutan serta pemilahan sampah hingga tingkat desa, pelibatan masyarakat dalam pengawasan limbah cair industri, terutama aktivitas daur ulang plastik, dan memasukkan mikroplastik dalam parameter pemantauan.