Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli
Kesehatan

Pasokan Darah Aman Meningkat Tapi Masih Banyak Orang Kurang Akses

Sunu Dyantoro

4 menit baca

Pasokan Darah Aman Meningkat Tapi Masih Banyak Orang Kurang Akses

Data baru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan kemajuan berkelanjutan menuju pasokan darah yang lebih aman secara global. Tapi juga terjadi ketidaksetaraan yang terus berlanjut dalam akses terhadap darah yang aman. Dan ada kelemahan dalam tata kelola, pembiayaan, dan regulasi sistem darah.

Data yang dikumpulkan dari 132 negara mengungkapkan pengumpulan darah global meningkat hampir 19% antara tahun 2013 dan 2023. Donor sukarela yang tidak dibayar terus mendorong kemajuan ini. Aktivitas ini menyumbang lebih dari 85% dari perkiraan 120 juta donasi darah yang diterima pada tahun 2023.

Terlepas dari kemajuan ini, akses terhadap darah dan produk darah yang aman masih sangat tidak merata di seluruh dunia. Banyak pasien masih kekurangan akses yang andal terhadap darah yang aman dan transfusi yang menyelamatkan jiwa, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah.

Mereka adalah wanita yang mengalami pendarahan yang mengancam jiwa selama persalinan, anak-anak dengan anemia berat, korban trauma atau luka bakar, dan pasien yang menjalani operasi. Selain itu, mereka adalah orang-orang yang hidup dengan kondisi seperti penyakit sel sabit, talasemia, hemofilia, defisiensi imun, dan kanker tertentu –

“Tidak seorang pun boleh meninggal karena ketersediaan darah yang aman tidak tersedia saat dibutuhkan,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Ia menyatakan data ini menunjukkan kemajuan yang menggembirakan, khususnya dalam peningkatan kontribusi donor darah sukarela tanpa bayaran di seluruh dunia. Ini mnejadi landasan pasokan darah yang aman dan berkelanjutan.

Namun, kata dia, hal ini juga mengingatkan kita bahwa tempat tinggal seseorang masih dapat menentukan apakah mereka memiliki akses ke transfusi darah yang mereka butuhkan. “Pemerintah harus terus berinvestasi dalam sistem darah nasional yang kuat dan berkelanjutan serta mendukung donor darah sukarela tanpa bayaran yang kemurahan hatinya menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun,” kata dia.

Ketidaksetaraan yang terus-menerus dalam ketersediaan darah

Meskipun negara-negara berpenghasilan tinggi hanya mencakup 15% dari populasi global. Mereka mengumpulkan 36% dari seluruh donasi darah di seluruh dunia. Sebaliknya, banyak negara berpenghasilan rendah terus menghadapi kekurangan pasokan darah karena keterbatasan pendanaan, infrastruktur yang lemah, hambatan logistik, dan perekrutan donor yang tidak mencukupi.

Tingkat donor darah sangat bervariasi di berbagai negara, berkisar antara 0,4 hingga 53 donor per 1000 penduduk. Dua puluh empat negara melaporkan pengumpulan kurang dari 5 donor darah per 1000 penduduk, yang mencerminkan kendala serius dalam menyediakan transfusi tepat waktu bagi pasien yang membutuhkan.

Proporsi darah yang dikumpulkan dari donor sukarela dan tidak dibayar juga berbeda secara signifikan berdasarkan tingkat pendapatan negara. Sementara donasi semacam itu mencapai 98,4% dari seluruh donasi darah di negara-negara berpenghasilan tinggi, angka itu turun menjadi 63,4% di negara-negara berpenghasilan rendah. Sistem kesehatan seringkali kesulitan untuk mempertahankan pasokan darah yang memadai dan andal.

Diperlukan tata kelola dan pendanaan yang lebih kuat

Keamanan darah bergantung pada tata kelola dan regulasi sistem darah yang kuat, serta keterlibatan dan komitmen berkelanjutan dari para donor darah. Analisis WHO menunjukkan bahwa hampir sepertiga negara masih kekurangan undang-undang khusus untuk memastikan keamanan dan kualitas darah dan produk darah.

Hanya 64% negara yang melaporkan sistem inspeksi rutin untuk layanan darah, 62% memiliki sistem perizinan, dan hanya 40% yang menunjukkan bahwa setidaknya beberapa layanan transfusi darah telah terakreditasi. Hal ini menunjukkan kesenjangan signifikan dalam jaminan kualitas di seluruh rantai pasokan darah yang aman.

Pendanaan berkelanjutan tetap menjadi tantangan utama. Lebih dari 1 dari 7 negara melaporkan tidak memiliki alokasi anggaran pemerintah khusus maupun mekanisme pemulihan biaya untuk layanan darah. Sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan pasokan darah nasional dalam jangka panjang.

Sebagai bagian dari upaya membangun sistem kesehatan yang tangguh dan adil, WHO menyerukan kepada negara-negara dan mitra untuk memperkuat tata kelola dan regulasi layanan darah, memastikan pembiayaan yang berkelanjutan, memperluas program penjaminan mutu, meningkatkan praktik transfusi klinis, dan memperkuat sistem pengawasan dan data untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti.

Langkah-langkah ini sangat penting untuk memastikan akses universal terhadap darah dan produk darah yang aman, efektif, dan terjamin kualitasnya, terlepas dari tempat tinggal masyarakat.

WHO merilis data terbaru ini menjelang Hari Donor Darah Sedunia, yang diperingati setiap tahun pada tanggal 14 Juni. Kampanye tahun ini, dengan slogan “Satu Tetes Kemanusiaan. Berikan Darah. Selamatkan Nyawa,” mengakui kontribusi para donor darah sukarela yang tidak dibayar. Hal ini menunjukkan bagaimana setiap donasi darah mendukung pasien yang membutuhkan, memperkuat komunitas, dan berkontribusi pada sistem kesehatan yang tangguh.

Laporan status global tentang keamanan dan ketersediaan darah 2025 mengacu pada data dari 168 negara, mencakup 97% populasi dunia, dan memberikan penilaian global paling komprehensif tentang sistem darah hingga saat ini.

Laporan ini mengkaji ketersediaan darah, keamanan transfusi, penggunaan klinis darah, akses ke produk obat yang berasal dari plasma, dan kapasitas sistem darah nasional. Temuan terutama didasarkan pada data tahun 2023 yang dilaporkan oleh negara-negara melalui Basis Data Global WHO tentang Keamanan Darah (GDBS).