Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli
Lingkungan

Riset BRIN Ungkap Jejak Sampah dan Sedimentasi Pesisir

Admin

3 menit baca

Riset BRIN Ungkap Jejak Sampah dan Sedimentasi Pesisir

Ke mana perginya sampah yang dibuang di daratan setelah masuk ke sungai? Mengapa di satu wilayah pesisir terjadi penumpukan sedimen, sementara wilayah lain justru mengalami erosi?

Dua persoalan ini menunjukkan berbagai masalah di laut dan pesisir tidak berdiri sendiri. Pergerakan material dari daratan hingga laut perlu dipahami melalui riset agar penanganannya dapat menjadi dasar kebijakan yang tepat.

Peneliti Pusat Riset Oseanografi (PRO) BRIN, Budhi Gunadharma Gautama, mengungkapkan persoalan sampah laut di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari aliran sungai. Menurutnya, sampah yang berasal dari daratan dapat terbawa melalui sungai-sungai besar hingga akhirnya masuk ke laut dan terakumulasi di sejumlah kawasan pesisir.

“Berdasarkan model simulasi yang digunakan dalam penelitian, sebanyak 92% aliran sampah berakhir di pantai Indonesia. Akumulasi sampah tersebut cukup tinggi di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa dan Bali,” ujar Budhi saat memaparkan hasil pemodelan mengenai pergerakan sampah laut dalam forum Ocean Talks seri ke-9 yang diselenggarakan secara hybrid di KST Apriliani Soegiarto BRIN, Senin, 5 Oktober 2026.

Budhi menjelaskan, sejumlah titik di pesisir Jawa menjadi lokasi akumulasi sampah. Jakarta menjadi salah satu wilayah yang terdampak, demikian pula Bali.

“Jawa ini ternyata terakumulasi di beberapa titik yang tinggi. Di Jakarta ya. Ini titik-titik yang di pantai Indonesia yang banyak sampah-sampah ini terdampar. Bali juga salah satu daerah yang terdampak. Jadi, memang Indonesia sampahnya memang lebih banyak berkumpul di Indonesia sendiri,” kata Budhi.

Oleh karena itu, Budhi menilai upaya penanganan sampah laut tidak cukup dilakukan dengan membersihkan pantai atau laut setelah sampah terlanjur masuk ke perairan. Menurut Budhi, upaya pencegahan justru perlu dimulai dari daratan, terutama melalui pengelolaan sampah dan pengendalian aliran sampah menuju sungai.

“Pencegahan masalah sampah itu harus memang dimulai dari darat, dan jangan sampai dirilis ke laut,” katanya.

Selain memetakan pergerakan sampah, pendekatan pemodelan yang digunakan dalam penelitian tersebut juga berpotensi mendukung penanganan pencemaran laut dan penegakan hukum lingkungan.

Menurut Budhi, simulasi pergerakan partikel dapat digunakan untuk memperkirakan penyebaran berbagai bentuk pencemaran di laut, termasuk tumpahan bahan berbahaya. Informasi ini dapat membantu memberikan gambaran ilmiah mengenai arah dan pola penyebaran material pencemar.

Budhi menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki perangkat regulasi yang cukup lengkap untuk menangani persoalan lingkungan. Tantangannya terletak pada pengawasan, pembuktian ilmiah, dan konsistensi penegakan hukum.

Dalam konteks ini, penelitian memiliki peran penting untuk menyediakan data dasar, bukti ilmiah, dan informasi yang dapat digunakan pemerintah maupun masyarakat dalam menangani kasus pencemaran lingkungan.

Pada kesempatan ini, Wahyu Budi Setyawan yang juga Peneliti Pusat Riset Oseanografi (PRO) BRIN membahas persoalan sedimentasi di kawasan pesisir Bengkulu.

Persoalan berbeda disampaikan Wahyu Budi Setyawan melalui penelitiannya mengenai kawasan pesisir Bengkulu. Ia menyoroti sedimentasi di alur pelabuhan yang terjadi secara berulang dan berpotensi memengaruhi kawasan wisata pantai di sekitarnya.

Menurut Wahyu, perubahan pola transport sedimen menyebabkan material terus masuk ke alur pelabuhan sehingga memicu pendangkalan. Di sisi lain, terdapat wilayah yang mengalami erosi akibat berkurangnya suplai sedimen alami.

Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pelabuhan. Jika tidak ditangani, perubahan distribusi sedimen juga dapat berdampak pada kawasan pantai yang menjadi bagian dari aktivitas wisata dan sumber ekonomi masyarakat setempat.

“Kalau ini tidak ditangani, efeknya apa? Maka suplai sedimen ke pantai panjang pun akan terpengaruh,” kata Wahyu.

Dua penelitian yang dipaparkan dalam Ocean Talks itu memperlihatkan keterhubungan antara persoalan di daratan, sungai, laut, dan kawasan pesisir. Sampah laut atau sedimentasi bukan hanya persoalan yang muncul di wilayah perairan, melainkan juga berkaitan dengan proses dan aktivitas yang terjadi jauh sebelum material tersebut mencapai laut.

Karena itu, penyelesaian persoalan kelautan membutuhkan pemahaman terhadap proses yang berlangsung secara menyeluruh. Data dan model ilmiah dapat membantu menunjukkan bagaimana material bergerak, di mana material itu terakumulasi, serta dampak yang mungkin ditimbulkannya terhadap lingkungan dan masyarakat.

Melalui riset kelautan dan oseanografi, BRIN mendorong pemanfaatan pengetahuan dan bukti ilmiah sebagai dasar bagi pihak terkait dalam merumuskan kebijakan dan mengambil tindakan untuk menangani persoalan sampah laut maupun sedimentasi pesisir.