Bau menyengat di keramaian pasar tercium kuat saat melangkahkan kaki di sekitar lapak pedagang buah dan sayur. Pedagang sedang memilah sayuran dan buah-buahan yang masih segar untuk dijual ke pembeli. Buah dan sayur yang rusak dan membusuk dibuang dekat tumpukan sampah, menunggu diangkut oleh petugas kebersihan pasar. Sampah organik mendominasi, bercampur sampah plastik dan sampah residu lain.
Tak jauh dari lapak pedagang buah dan sayur, sampah menggunung di sudut pasar. Inilah penyebab munculnya bau tidak sedap. Di dekat situ, terdapat gerobak pedagang buah yang berjarak hanya sekitar 15 meter dari bukit sampah. Sambil memilah dagangannya, pedagang buah itu mengeluhkan hal yang sama, bau busuk nan menyengat. Segera pedagang itu mengambil masker dan memakainya agar hidungnya tak tersengat bau.
Foto: Pedagang buah memakai masker untuk menyamarkan bau/Kustina CN
“Ini tumben bau, biasanya gak kayak gini. Sampahnya dua hari penuh terus,” ucap Tri (55), pedagang buah di pasar tradisional Pasar Minggu, Jakarta Selatan saat ditemui pada Minggu, 13 September 2026.
Sampah organik atau dikenal sebagai limbah basah menghasilkan bau akibat proses penguraian oleh mikroorganisme. Persoalan sampah organik yang menumpuk tidak hanya karena baunya yang menyengat, namun berpotensi meningkatkan keberadaan bioaerosol yang berdampak terhadap kesehatan manusia.
Sejumlah penelitian pada pekerja pasar buah dan sayur di India dan Etiopia menemukan hubungan antara paparan lingkungan yang mengandung partikel organik dan mikroorganisme dengan gangguan kesehatan pernapasan, termasuk penurunan fungsi paru dan meningkatnya gejala pernapasan. Meski demikian, penelitian tersebut tidak serta-merta menjadi bukti bahwa sampah organik secara langsung menyebabkan penyakit. Risiko paparan bergantung pada angka cemaran udara, durasi paparan, aktivitas pekerja, dan kondisi lingkungan pasar.
Bukan sekadar persoalan bau
Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, timbulan sampah di kawasan Pasar Minggu rata-rata mencapai 45 sampai 50 ton per hari yang didominasi oleh sampah organik. Sekitar 60 persen di antaranya merupakan sampah sisa sayuran dan buah-buahan, terutama dari aktivitas pedagang di pasar tradisional.
Foto: Potret Timbulan Sampah di Pasar Minggu/Kustina CN
Di area pasar, buah dan sayur rentan menjadi sisa organik saat kondisinya sudah layu dan tidak lagi diminati pembeli. “Kalau sayur sudah enggak laku dan sudah jelek-jelek, kalau ada yang mau dikasih ke orang, kalau enggak ada yang mau, ya dibuang,” kata Jimuk, pedagang sayur di Pasar Minggu.
Salah satu pedagang buah bernama Yuni juga memiliki pendapat yang sama soal buah dan sayuran yang rentan rusak dan membusuk, sehingga berakhir jadi sampah organik yang menumpuk. Bagi Yuni, sisa buah yang sudah membusuk tentunya sudah tidak memiliki nilai jual dan langsung dibuang bersamaan dengan sampah lainnya. “Buah yang sudah busuk ya dibuang, buat apaan?“ ucap Yuni sambil memilah buah salak yang ia jual.
Sisa organik menjadi sumber permasalahan sampah yang sebetulnya bisa diatasi dengan pengelolaan yang tepat. Masalah utamanya ada pada kondisi sampah yang bercampur dengan sampah lain sehingga sulit untuk diolah dan berakhir menumpuk di tempat pembuangan sampah. Kondisi sampah organik yang menumpuk dan mengalami pembusukan itu dapat menyebabkan bioaerosol yang mengandung kuman patogen, khususnya bakteri dan jamur. Dokter spesialis Mikrobiologi, Andani Eka Putra menjelaskan beberapa bakteri yang cukup banyak ditemukan di lingkungan pasar adalah E coli dan Klebsiella pneumonia.
Pemicu utama pelepasan bioaerosol dalam jumlah masif ke udara terjadi karena adanya aktivitas mekanis dan gangguan fisik terhadap sampah organik. Mikroorganisme yang tumbuh di tumpukan sampah akan terlepas dan melayang menjadi aerosol akibat adanya aktivitas fisik, seperti memindahkan sampah dengan sekop, melempar kantong sampah ke bak truk, menyapu kering, atau proses pengadukan kompos.
Pembentukan bioaerosol juga dipengaruhi lingkungan yang hangat (25°C–35°C) dengan kelembapan tinggi yang menciptakan medium ideal bagi bakteri (seperti Bacillus, E coli dan Micrococcus) serta jamur (seperti Aspergillus) untuk berkembang biak dengan cepat. Selain itu, angin atau aliran udara, termasuk kipas angin atau ventilasi buatan yang kuat di ruang tertutup, menjadi media transportasi utama yang menerbangkan dan menyebarkan partikel bioaerosol ringan (spora dan bakteri) ke area yang lebih luas.
“Jadi di sini ada 3 aspek utama, yaitu pembentukan melalui proses pembusukan, penyebaran lokal karena aktivitas dan penyebaran luas karena pergerakan angin,” katanya kepada tim Prohealth.id.
Dampak kesehatan yang muncul tentunya akan berbeda pada tiap individu. Sering orang yang ada di sekitar lokasi lebih tahan sehingga tidak berdampak, namun anak-anak, orang tua, dan pengunjung merupakan kelompok dengan risiko tinggi. Pekerja pasar yang bekerja dalam waktu lama juga berisiko tinggi untuk terkena penyakit akibat lingkungan pasar yang tidak sehat.
Foto: Dampak Kesehatan Bioaerosol/Website Universitas Airlangga
Tim Prohealth.id bertemu dengan koordinator lapangan petugas kebersihan Pasar Jaya, Feri yang setiap harinya bergumul dengan tumpukan sampah pasar, organik maupun non-organik. Tanggung jawabnya sebagai koordinator lapangan adalah memastikan semua sampah terkumpul dan masuk ke dalam bak truk. Sebagai pekerja, Feri memiliki risiko paparan tinggi dari bioaerosol. Ia pun mengetahui akan dampak kesehatan yang timbul dari tumpukan sampah.
“Kalau masalah kesehatan sih, biasanya batuk sama ada sejenis bakteri. Kan terpapar bau sampah dan kotoran jadi kena bakteri,” ucapnya.
Antara kebijakan dan realisasi di lapangan
Setiap pagi selain disibukkan dengan hiruk pikuk aktivitas pasar, beberapa petugas kebersihan mulai menyisir beberapa area tumpukan sampah untuk diangkut dan dikumpulkan di satu lokasi yang menjadi Tempat Penampungan Sementara (TPS) terbuka. Peralatan kebersihan seperti sapu dan serokan jadi alat tempur untuk mengangkut sampah-sampah dari lapak pedagang. Selain itu, pengangkutan dan pemindahan sampah juga menggunakan alat berat untuk menangani sampah yang beratnya mencapai puluhan ton itu.
Foto: Pengangkutan Sampah dengan Alat Berat/Kustina CN
Pengelolaan sampah organik di Pasar Minggu masih menjadi persoalan sampah di bagian hulu. Sisa sayur, buah, dan bahan pangan yang tidak lagi layak belum sepenuhnya dipilah sejak dari lapak pedagang.
“Kalau buang, ya di situ saja, nanti ada petugas kebersihan yang bersihin,” kata Suratmi, penjual sayur di Pasar Minggu yang sedang merapikan dagangannya.
Banyak sisa pangan dan sisa organik yang cenderung langsung dibuang dan bercampur dengan sampah lainnya, sementara dalam upaya pemilahan sampah sejak dari sumber pedagang mengandalkan petugas kebersihan untuk mengangkut dan memindahkan sampah agar lapaknya terlihat bersih.
Deden Sudrajat, Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) area Pasar Minggu menilai masih banyak tantangan dalam mengelola sampah yang tercampur sehingga sulit untuk menangani sampah saat pemilahan akhir. “Kalau saya ingin pemilahan sampah bisa lebih banyak dilakukan, kita sebagai petugas menjalankan saja peraturan yang sudah dibuat oleh pemerintah,” ucapnya.
Foto: Tumpukan Sampah di Sudut Pasar/Kustina CN
Untuk memastikan sampah ditangani sejak dari sumber, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin mengatakan pihaknya melakukan sosialisasi kepada pengelola pasar dan para pedagang untuk melakukan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 102 Tahun 2021 tentang Kewajiban Pengelolaan Sampah di Kawasan dan Perusahaan serta Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
Menurutnya, masih tercampurnya sampah organik dengan jenis sampah lainnya di pasar tradisional Pasar Minggu, antara lain disebabkan oleh ketersediaan sarana pemilahan di tingkat kios yang belum memadai, serta tingkat kesadaran dan kepatuhan pedagang dalam melakukan pemilahan yang masih belum merata.
“Upaya tersebut juga diperkuat melalui inspeksi dan pengawasan secara berkala untuk memastikan pemilahan dan pengelolaan sampah berjalan sesuai ketentuan,” ungkapnya.
Upaya pengolahan sampah sejak dari sumber bukan tanpa alasan. Sejak terjadinya insiden longsor di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang pada 8 Maret 2026, kuota pengiriman sampah mulai dibatasi dan Pasar Minggu saat ini hanya mendapatkan kuota pengiriman dua hari sekali.
Jakarta kini mulai berbenah untuk pengelolaan sampah dari pola kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah. Aturan ini mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama hingga benar-benar mampu terealisasi dengan baik. Komitmen yang kuat dari berbagai pihak dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan sampah dari hulu (sumber sampah) agar tidak membebani dan menumpuk permasalahan baru yang terjadi di hilir (tempat pembuangan akhir).
Mengurangi timbulan, memperkuat pengolahan
Di tengah persoalan sampah organik yang begitu pelik, upaya pengolahan sampah organik oleh PD Pasar Jaya perlahan tengah dicoba penerapannya melalui fasilitas seperti teba modern dan teknik komposting. Teba modern yang ada di Pasar Minggu memiliki kedalaman 1,5 meter dengan kapasitas 10 kilogram sampah sisa organik yang dapat ditampung. Di sisi lain, PD Pasar jaya menghasilkan 5-6 ton sampah setiap harinya. Kondisi ini membuat fungsi teba modern menjadi kurang efektif karena butuh waktu beberapa bulan untuk membusukkan sisa organik ke dalam teba.
Foto: Operasional Pengadaan Teba Modern di PD Pasar Jaya area Pasar Minggu/Kustina CN
PD Pasar Jaya juga memanfaatkan sisa organik dengan teknik komposting. Sampah sisa sayuran dicacah sangat kecil kemudian didiamkan dengan larutan EM4. Setelah itu, masuk ke proses pembusukan, kemudian pupuk yang sudah jadi siap digunakan untuk menyuburkan tanaman.

Foto: Operasional Pengadaan komposting di PD Pasar Jaya area Pasar Minggu/Kustina CN
Sampah organik yang telah dipilah sebenarnya memiliki nilai manfaat. Sisa buah dan sayuran dapat diolah menjadi kompos, dimanfaatkan melalui budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) untuk jenis sampah yang sesuai, maupun diolah menggunakan biodigester untuk menghasilkan biogas apabila volume dan karakteristik sampahnya mendukung.
Hal ini disampaikan oleh Yuki M.A. Wardhana, Akademisi Manajemen Risiko dan Ekonomi Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia. Menurutnya, solusinya tidak cukup hanya dengan mempercepat pengangkutan sampah ke TPA. Yang lebih penting adalah melakukan pemilahan dan pengolahan sejak dari sumber. Sisa buah dan sayuran sebaiknya dipisahkan dari plastik dan sampah residu sejak di tingkat pedagang, kemudian dikumpulkan secara rutin agar tidak terlalu lama berada di area pasar.
“Pada akhirnya, pengelolaan sampah pasar perlu bergeser dari pola “kumpul-angkut-buang” menjadi “pilah-olah-manfaatkan. Dengan pendekatan tersebut, beban sampah yang dikirim ke TPA dapat dikurangi, lingkungan pasar menjadi lebih bersih dan sehat, sekaligus membuka peluang untuk menghasilkan nilai ekonomi dari sampah organik,” ungkapnya.
Selain melakukan pengolahan secara operasional, PD Pasar Jaya Pasar Minggu juga melakukan edukasi kepada para pedagang pasar melalui program GEBER (Gerakan Bersama Bersih Pasar). Program ini dilakukan dengan menyebar flyer edukasi yang berisi informasi empat jenis sampah, hierarki pengelolaan sampah serta tips pilah dan kurangi sampah. Hal ini disampaikan oleh Petugas Lapangan PD Pasar Jaya yang melakukan sosialisasi secara langsung agar pedagang dapat teredukasi dengan baik. 
Foto: Flyer Geber Pasar yang dibagikan ke Pedagang/Kustina CN
“Dari edukasi yang telah dilakukan ada pedagang yang awalnya tidak tahu empat jenis sampah, kemudian jadi lebih tahu. Apalagi pedagang kan yang banyak menghasilkan sampah dari pasar,” kata petugas itu saat ditemui Prohealth.id.
Berbagai solusi tengah dilakukan untuk mengatasi permasalahan sampah yang sangat kompleks. Target pengelolaan sampah organik diharapkan dapat dipilah dari sumber dan diolah dengan tepat untuk menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan pasar yang baik. Tentu, target yang lebih besar, yaitu mengurangi beban pengelolaan sampah di hilir, tempat pembuangan akhir, untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah dan melindungi kesehatan masyarakat lewat sanitasi lingkungan.
Liputan ini didukung Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) melalui program Jakarta Food Waste Media fellowship untuk mengampanyekan isu Susut dan Sisa Pangan.


Foto: Pedagang buah memakai masker untuk menyamarkan bau/Kustina CN






